BENER MERIAH — Di Kampung Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, suara ekskavator terdengar sejak pagi. Alat berat itu mengeruk sisa-sisa material jalan yang hanyut di dekat Jembatan Enang-Enang. Bukan proyek pemerintah yang membiayai, melainkan uang iuran warga dan sumbangan dari berbagai pihak.
Jembatan Enang-Enang merupakan jalur vital bagi warga dari Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah menuju Banda Aceh. Sejak jembatan itu putus, distribusi kebutuhan pokok seperti beras, telur, dan minyak goreng terpaksa dialihkan melalui jalan kabupaten yang lebih panjang dan rusak.
Sahrial Abadi (60), mantan mukim yang memimpin inisiatif ini, mengaku sempat putus asa. Saat mencoba meminjam alat berat ke sejumlah perusahaan di Bener Meriah, semua menolak dengan alasan tidak ada unit yang senggang.
"Oleh sebab itu, karena tidak ada yang senggang waktunya membantu kami, maka saya berinisiatif mengumpulkan uang, ada dua atau tiga orang kami, lalu menyewa alat ke Kabupaten Bireuen sebesar Rp10 juta," ungkap Sahrial.
Dana itu hanya cukup untuk dua hari kerja. Namun, kata Sahrial, bantuan justru mengalir deras setelah alat berat mulai beroperasi. "Kekuasaan Allah datang, sehingga banyak hamba Allah yang membantu. Sampai sekarang lima hari kerja kami masih memiliki dana yang memadai," ujarnya.
Gelombang donasi datang dalam berbagai bentuk. Ada yang menyumbang uang, semen curah sebanyak empat trip, hingga bahan bakar minyak (BBM) untuk ekskavator. Sahrial menyebut Penjabat Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar secara pribadi memberikan dua jeriken BBM pada hari pertama kerja, kemudian satu drum pada hari ketiga.
"Memang Pemkab tidak ada billing apa-apa, tetapi hari pertama kerja, beliau [Tagore Abubakar] menyumbangkan 2 jerigen, Pak Danramil 3 jerigen, hari berikutnya saya bersama rekan-rekan menanggulangi," kata Sahrial.
Dengan dana yang terus mengalir, warga berencana meningkatkan kualitas jalan akses menuju jembatan menggunakan rabat beton mutu K-300, yang biasa dipakai di jalan tol. Targetnya, badan jalan selebar enam meter bisa dilalui kendaraan roda empat tanpa hambatan.
Sahrial mengaku tidak memasang target waktu penyelesaian yang kaku. Baginya, yang terpenting proses pengerjaan terus berjalan. "Ada juga yang menyumbang materi, doa, ini yang tidak sanggup membalasnya. Saya tidak bisa melakukan hal ini tanpa dukungan dari semua pihak," tutupnya.
Kondisi ini menggambarkan situasi pascabencana yang kerap terjadi di daerah terpencil Aceh: ketika birokrasi pemerintah bergerak lambat, warga mengambil alih. "Gak ada harapan lain, kecuali masyarakat, selamat menikmati," kata Sahrial.