BANDA ACEH — Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) memastikan seluruh admin Siskeudes di tingkat kabupaten/kota dan operator gampong menguasai aplikasi versi terbaru. Pelatihan yang digelar di Banda Aceh, Senin, menyasar peningkatan kapasitas teknis puluhan peserta agar mampu mengelola keuangan desa secara sistematis dan terintegrasi.
Iskandar menyebut besarnya alokasi dana yang dikucurkan ke seluruh gampong di Aceh setiap tahun harus diimbangi dengan kompetensi aparatur desa. "Besarnya anggaran yang dikelola gampong tentunya harus diimbangi dengan kemampuan sumber daya manusia, baik di level kabupaten maupun tingkat desa," ujarnya dalam sambutan pembukaan pelatihan.
Dana desa yang terus meningkat membuat proses perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, hingga pelaporan keuangan tidak bisa lagi dilakukan secara manual. Aplikasi Siskeudes hadir sebagai instrumen untuk mendukung seluruh tahapan tersebut secara lebih tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.
Iskandar menjelaskan, Siskeudes merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh Kementerian Dalam Negeri bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Aplikasi ini menjadi salah satu bentuk inovasi untuk mendorong transformasi digital dalam pengelolaan keuangan gampong.
"Kehadiran aplikasi Siskeudes menjadi instrumen yang sangat penting untuk mendukung proses pengelolaan keuangan gampong secara lebih sistematis dan terintegrasi," kata Iskandar. Setiap tahun, Kemendagri terus memperbarui Siskeudes dengan menambahkan fitur monitoring dan pelaporan terbaru.
Menurut Iskandar, gampong merupakan ujung tombak pelayanan masyarakat sekaligus pelaksana berbagai program pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan warga. Karena itu, pelatihan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kapasitas admin dan operator agar mampu mengelola keuangan secara transparan, akuntabel, dan partisipatif.
Ia berharap setelah mengikuti pelatihan, seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk kemajuan tata kelola keuangan di wilayah masing-masing. "Saya berharap setelah mengikuti pelatihan ini, seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh," demikian Iskandar.
Dalam kesempatan itu, Iskandar mendorong para peserta untuk tidak ragu menyampaikan berbagai kendala yang selama ini dihadapi dalam penggunaan Siskeudes. Pelatihan dirancang interaktif agar setiap permasalahan teknis di lapangan bisa langsung ditemukan solusinya.
DPMG Aceh menargetkan setelah pelatihan ini, seluruh operator gampong mampu mengoperasikan Siskeudes versi terbaru tanpa kendala. Hal ini penting mengingat gampong menjadi unit pemerintahan paling depan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.