BANDA ACEH — Ribuan warga memadati Taman Bustanussalatin (Taman Sari) untuk mengikuti tausiah yang mengangkat pentingnya memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah perkembangan zaman. Program ini disebut sebagai ikhtiar pemerintah kota menjaga nilai-nilai kebaikan tetap hidup di masyarakat.
Illiza mengatakan dakwah kini membutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat. Pemerintah Kota Banda Aceh menghadirkan Dakwah Umum Kolaborasi sebagai ruang mempertemukan berbagai potensi dalam satu semangat.
"Dewasa ini dakwah membutuhkan kolaborasi antara ulama dan generasi muda, komunitas dakwah dengan kreator digital, pendidik, seniman, pelaku usaha, hingga berbagai elemen masyarakat lainnya," ujar Illiza.
Illiza mengapresiasi tema "Seuramoe Hatee" yang dinilai dekat dengan budaya masyarakat Aceh. Menurutnya, serambi bukan sekadar bagian dari rumah, melainkan tempat keluarga berkumpul, cerita dibagikan, dan nasihat disampaikan.
"Di sanalah keluarga berkumpul, cerita dibagikan, nasihat disampaikan, dan hati kembali dikuatkan," katanya.
Wali Kota juga mengungkapkan kekagumannya terhadap perjuangan Syeikh Reza Abdul Jabbar yang berdakwah di wilayah dengan jumlah umat Islam minoritas. Ia menilai hal itu menjadi cambuk bagi warga Banda Aceh yang memiliki banyak fasilitas keagamaan.
"Kita hidup di kota yang memiliki begitu banyak nikmat. Masjid ada di setiap gampong, meunasah hidup di tengah masyarakat, majelis ilmu tumbuh, dan ruang-ruang dakwah terbuka luas," ujar Illiza.
Menutup sambutannya, Illiza mengingatkan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik. Manusia juga membutuhkan arah, nilai, dan ruang untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
"Manusia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik. Manusia juga membutuhkan arah, membutuhkan nilai, dan membutuhkan ruang untuk saling mengingatkan dalam kebaikan," pungkasnya.