SINGKIL — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Iskandar Muda Banda Aceh memperingatkan potensi gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di perairan Singkil hingga Pulau Banyak pada Minggu (5/7/2026). Peringatan ini berlaku untuk wilayah perairan selatan Simeulue, Aceh barat daya-Simeulue, Aceh Besar-Meulaboh, serta perairan Sabang-Banda Aceh.
Forecaster on duty BMKG, Nabila, menjelaskan bahwa tingginya gelombang dipicu oleh aktifnya gelombang atmosfer kelvin dan Rossby ekuatorial di Samudera Hindia. Selain itu, gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) juga terpantau aktif di wilayah Aceh dan memperkuat pengaruh cuaca lokal.
“Kondisi ini dapat meningkatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan dan berisiko terhadap keselamatan pelayaran,” ujar Nabila dalam keterangan resmi yang diterima RRI.
Data BMKG menunjukkan pola angin di wilayah Aceh umumnya bertiup dari Barat Daya-Tenggara dengan kecepatan berkisar 5 hingga 32 knot. Kecepatan angin di atas 15 knot disertai gelombang 1,25 meter dinilai berbahaya bagi perahu nelayan. Sementara untuk kapal tongkang, risiko meningkat jika angin mencapai 16 knot dan gelombang di atas 1,5 meter.
“Diimbau kepada para nelayan serta jasa pelayaran dan penyeberangan untuk selalu waspada serta tidak memaksakan berlayar jika kondisi tidak memungkinkan,” tegas Dedi, perwakilan BMKG yang turut menyampaikan imbauan.
BMKG memetakan lima titik rawan gelombang tinggi di Aceh akhir pekan ini. Selain Aceh Singkil dan Pulau Banyak, nelayan di perairan selatan Simeulue, pesisir barat daya hingga Simeulue, serta jalur Sabang-Banda Aceh juga diminta meningkatkan kewaspadaan.
Peringatan dini ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kecelakaan laut yang kerap terjadi saat cuaca ekstrem di perairan barat Sumatera. Nelayan skala kecil menjadi kelompok paling rentan karena keterbatasan teknologi navigasi dan kapasitas kapal.