Akademisi Dorong Media Lokal Aceh Jadi Infrastruktur Pengendalian Bencana, Bukan Sekadar Saluran Informasi

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Kamis, 16 Juli 2026 | 16:28:01 WIB
Akademisi mendorong media lokal Aceh menjadi bagian dari infrastruktur pengendalian bencana, bukan sekadar saluran informasi.

BANDA ACEH — Selama ini, infrastruktur kebencanaan kerap dipahami hanya sebatas lembaga pemerintah, posko, alat berat, jalur evakuasi, atau sirene peringatan dini. Padahal, media lokal memiliki fungsi yang tak kalah vital sebagai penghubung antara pemerintah, masyarakat, relawan, dan kelompok rentan.

“Media jangan hanya diposisikan sebagai kanal atau saluran untuk menyebarluaskan informasi kebencanaan. Media justru harus dimasukkan sebagai bagian dari infrastruktur pengendalian bencana,” kata Tria Patrianti.

Menurutnya, kemampuan media untuk tetap beroperasi saat bencana terjadi adalah cerminan ketahanan suatu daerah. Jika media lumpuh akibat listrik padam, jaringan komunikasi terputus, atau kantor redaksi ikut terdampak, itu menandakan infrastruktur komunikasi kebencanaan belum siap.

Mengapa Media Lokal Sering Lumpuh Saat Bencana?

Tria menjelaskan, kegagalan media memberitakan bencana bukan semata persoalan redaksi. “Bisa jadi karena infrastrukturnya memang tidak siap. Media tidak memiliki genset, jaringan komunikasi cadangan, peralatan keselamatan, sarana transportasi, maupun prosedur kerja ketika keadaan darurat,” ujarnya.

Kondisi ini sangat riskan bagi Aceh yang berada di kawasan rawan gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor. Media lokal yang beroperasi di zona merah bencana kerap menjadi korban pertama saat infrastruktur publik runtuh.

Dukungan Konkret yang Dibutuhkan Redaksi

Tria mendorong pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian serius terhadap kesiapan sarana media lokal. Dukungan itu bisa berupa:

  • Penyediaan sumber listrik cadangan dan perangkat komunikasi darurat
  • Akses internet alternatif dan perlindungan data redaksi
  • Perlengkapan keselamatan jurnalis saat peliputan bencana
  • Pelatihan peliputan bencana dan penyusunan SOP ruang redaksi dalam keadaan darurat

Dari Pemberitaan Peristiwa ke Komunikasi Risiko

Dalam perspektif komunikasi risiko, Tria menekankan perlunya pergeseran pola pemberitaan. Selama ini, media cenderung menerapkan event-oriented reporting—baru ramai memberitakan setelah banjir, gempa, atau longsor terjadi, dengan isi didominasi jumlah korban dan kerusakan bangunan.

“Media seharusnya tidak menunggu bencana terjadi. Media harus terus mengingatkan masyarakat dan pemerintah mengenai risiko yang ada. Dari sinilah media berfungsi sebagai pengawal bencana atau disaster watchdog,” tegasnya.

Dua Peran Kunci Media Sebelum Bencana Tiba

Pertama, media berperan membangun kesadaran risiko. Besarnya dampak dan jumlah korban bencana tidak hanya dipengaruhi kekuatan bencana, tetapi juga rendahnya pemahaman masyarakat terhadap ancaman di lingkungannya. Media daerah dapat secara konsisten menyampaikan peta rawan bencana, tanda-tanda alam, jalur evakuasi, dan prosedur penyelamatan.

“Informasi seperti ini tidak boleh hanya disampaikan satu kali. Kesadaran risiko harus dibangun secara terus-menerus melalui pemberitaan yang mudah dipahami, relevan dengan kondisi lokal, dan tidak menimbulkan kepanikan,” katanya.

Kedua, media menjadi jembatan yang menerjemahkan informasi teknis dari pemerintah dan akademisi ke bahasa publik. Tanpa media yang tangguh, rantai komunikasi kebencanaan bisa putus di tengah jalan—dan itu artinya nyawa taruhannya.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: dialeksis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top