BANDA ACEH — Kepercayaan publik terhadap RSUDZA dinilai terus menurun setelah serangkaian keluhan pelayanan kembali mencuat. Hal ini disorot oleh aktivis sosial dan kemanusiaan, Zainal Arifin Suarja, yang mengaku pernah kehilangan anggota keluarga saat proses rujukan dari rumah sakit tersebut pada Desember 2025 lalu.
Zainal menceritakan, keluarganya datang ke IGD RSUDZA dalam kondisi darurat pada akhir tahun lalu. Namun, karena tidak mendapatkan penanganan yang memadai, mereka harus membawa pasien ke rumah sakit lain. “Dalam perjalanan menuju rumah sakit tersebut, anggota keluarga kami meninggal dunia. Peristiwa itu menjadi luka yang tidak akan pernah hilang bagi keluarga kami,” tulisnya dalam sebuah opini yang dikutip pada Rabu (27/3/2026).
Yang membuat Zainal semakin prihatin, pengalaman pahitnya bukanlah cerita tunggal. Ia mengaku membaca banyak komentar di media sosial dari warga lain yang mengeluhkan hal serupa. “Mulai dari lambatnya pelayanan, buruknya komunikasi, sulitnya memperoleh informasi, hingga sikap petugas yang menurut mereka kurang menunjukkan empati terhadap pasien maupun keluarga,” paparnya.
Meski mengakui komentar di media sosial bukanlah bukti ilmiah, Zainal menilai pola keluhan yang terus berulang dari waktu ke waktu tidak bisa diabaikan begitu saja. Menurutnya, persepsi publik terbentuk dari pengalaman nyata yang mereka rasakan. “Manajemen rumah sakit seharusnya menjadikannya sebagai bahan evaluasi yang serius, bukan sekadar menganggapnya sebagai kritik biasa,” tegasnya.
Dalam opini yang dimuat di Portalnusa.com, Zainal menekankan bahwa persoalan inti bukan hanya soal keterbatasan tempat tidur atau tenaga medis. Ia menyebut aspek yang paling dirasakan keluarga pasien adalah bagaimana mereka diperlakukan saat berada dalam situasi paling sulit. “Empati bukanlah sesuatu yang membutuhkan anggaran miliaran rupiah. Komunikasi yang baik juga bukan sesuatu yang sulit dilakukan,” ujarnya.
Ia mendorong agar pihak rumah sakit lebih terbuka dalam merespons kritik. Menurut Zainal, respons yang defensif atau terlalu fokus pada citra institusi justru akan memperburuk kepercayaan publik. “Ketika masyarakat merasa suaranya tidak didengar, yang terkikis bukan hanya citra rumah sakit, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan pemerintah secara keseluruhan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen RSUDZA belum memberikan tanggapan resmi atas opini dan keluhan yang kembali mengemuka. Publik menanti langkah konkret rumah sakit plat merah tersebut untuk membenahi kualitas pelayanan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat Aceh.