BANDA ACEH — Engklek, bakiak batok, egrang kayu, dan lompat tali menjadi primadona di area Forum Anak Kota Banda Aceh. Setiap stan permainan dipenuhi antrean anak-anak yang ingin mencoba. Beberapa di antaranya bahkan berlomba dalam kelompok kecil, menunjukkan semangat kompetisi yang sehat.
Kak Na, didampingi Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh Meutia Juliana, menyusuri satu per satu anjungan. Ia sesekali berjongkok untuk mendampingi anak-anak yang kesulitan menyeimbangkan egrang batok.
"Permainan tradisional cenderung dimainkan oleh kelompok dan penuh dengan gerakan. Ini sangat baik menjaga kebugaran, memupuk semangat kompetisi, dan menjunjung tinggi sportivitas," ujar Kak Na di sela kegiatan.
Panitia menyediakan pohon harapan tempat anak-anak menempelkan cita-cita mereka. Setiap anak yang menempelkan harapan mendapat bingkisan menarik. Selain itu, Kak Na bersama jajaran TP PKK Aceh membagikan empat unit sepeda kepada anak-anak yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar.
Suasana makin meriah saat Marching Band Gita Handayani binaan Dinas Pendidikan Aceh tampil. Penampilan tari, lagu, musikalisasi puisi, dan seni tutur dari siswa TK hingga SMA mengisi panggung utama sepanjang acara.
Kak Na juga mengingatkan anak-anak dan orang tua untuk mengurangi penggunaan gawai. "Sejenak tinggalkan gawai, lebih banyak berkumpul dengan teman sebaya dan bermain permainan tradisional. Badan jadi sehat karena terus beraktivitas," imbaunya.
Permainan seperti engklek, ular tangga, dan hulahop dinilai mampu membangun kekompakan sekaligus menjaga kesehatan fisik. Anak-anak tampak antusias bergantian mencoba setiap permainan tanpa perlu menatap layar ponsel.
Sejumlah Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) turut membuka layanan gratis. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melayani pembuatan KTP dan Kartu Identitas Anak (KIA). Dinas Kelautan dan Perikanan membagikan 1.000 paket bakso ikan untuk pengunjung.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh menerjunkan tiga unit mobil perpustakaan keliling dengan koleksi bacaan berbagai bidang. Dinas Sosial Aceh juga membuka pos layanan dukungan psikososial pascabencana dan trauma healing bagi anak-anak yang membutuhkan.
Pada kesempatan itu, Kak Na menegaskan komitmen Pemerintah Aceh untuk terus menghadirkan program ramah anak. "Penanganan stunting, sosialisasi stop kekerasan pada anak, pencegahan pernikahan usia anak, dan anti-bullying menjadi prioritas," pungkasnya.
Peringatan HAN 2026 menjadi pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari ruang bermain yang aman, interaksi sosial yang sehat, dan kebijakan yang berpihak pada anak. Pemerintah Aceh berjanji akan merumuskan program berkelanjutan guna mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045.