BANDA ACEH — Inflasi tahunan di Aceh pada Juni 2026 tercatat 5,84 persen, dengan tekanan harga bulanan naik 0,56 persen dibandingkan Mei 2026. Komoditas utama pemicu inflasi bulanan adalah bensin, cabai merah, bawang merah, ikan dencis, dan beras, sementara inflasi tahunan didorong oleh nasi dengan lauk, emas perhiasan, dan cabai merah.
Kepala KPwBI Aceh, Agus Chusaini, menjelaskan empat langkah belanja bijak mencakup bijak membeli, memilih, konsumsi, dan bertransaksi. "Bijak membeli diartikan agar masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan, dan tidak secara berlebih-lebihan," ujarnya.
Warga juga didorong memilih pangan lokal, bumbu olahan yang awet dengan harga sesuai, berhenti boros pangan, serta mengutamakan transaksi non-tunai agar lebih praktis. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi yang lebih luas.
Selain belanja bijak, Agus menuturkan bahwa pengendalian inflasi juga memerlukan strategi 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Upaya ini terus dilakukan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga terjangkau dan aktivitas ekonomi berjalan baik.
Agus memperingatkan sejumlah risiko inflasi ke depan. Pertama, lahan persawahan yang mengalami kerusakan pascabencana berpotensi memicu supply shock produksi beras. Kedua, masuknya musim tanam komoditas strategis seperti cabai merah di sentra produksi Aceh bagian dataran tinggi.
Ketiga, prakiraan gelombang tinggi BMKG pada awal Juli, terutama di wilayah barat selatan Aceh, yang dapat mengganggu pasokan ikan. Terakhir, fluktuasi harga minyak global dan CPO akibat dinamika geopolitik dunia yang berisiko mendorong tekanan inflasi.
Meskipun terdapat berbagai risiko, Agus memprediksikan laju inflasi 2026 bakal lebih rendah dari tahun sebelumnya. Hal ini didorong oleh high base effect inflasi pascabencana akhir November 2025 serta normalisasi jalur distribusi pangan.
"Meskipun melandai, masih terdapat risiko inflasi yang berasal dari ketidakpastian ekonomi global dan ancaman gangguan pasokan akibat kerusakan lahan pertanian," demikian Agus Chusaini menambahkan. BI Aceh terus berkoordinasi dengan pemda dan instansi terkait untuk menjaga stabilitas harga di provinsi paling barat Indonesia tersebut.