BANDA ACEH — Enam puluh siswa baru angkatan pertama SRMA 1 Aceh Besar tidak bisa langsung belajar di kampus sendiri. Mereka akan dititipkan di SRT 3 Provinsi Aceh di Kecamatan Kuta Malaka selama setahun ke depan, seraya menunggu sekolah permanen mereka rampung dibangun di Kota Jantho.
Kepala Sekolah SRMA 1 Aceh Besar, Ilza Satriadi, mengatakan para siswa akan tinggal di asrama dan mengikuti seluruh kegiatan belajar mengajar di SRT 3. “Mereka akan belajar dan tinggal di asrama SRT 3 Provinsi Aceh selama setahun, seraya menunggu sekolah permanen sendiri yang akan dibangun di kota Jantho akhir tahun ini,” ujarnya di Darul Imarah, Kamis.
Berbeda dengan siswa baru, siswa SRMA 1 Aceh Besar yang sudah duduk di kelas 2 tetap menjalani pembelajaran di komplek Sentra Darussa’adah Provinsi Aceh. Mereka juga akan ikut pindah ke gedung baru setelah pembangunan selesai pada akhir tahun 2026.
Selama menumpang di SRT 3, para siswa baru akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan siswa reguler di sekolah rakyat lainnya. “Mereka kita titip untuk belajar dan tinggal di asrama di sana. Selama di sana mereka juga akan mendapat perlakuan yang sama, termasuk juga ada wali asuh,” kata Ilza.
Pihak sekolah meminta orang tua tidak perlu khawatir. Sistem pembelajaran, pengawasan, hingga fasilitas yang diterima siswa SRMA 1 di SRT 3 disebut setara dengan sekolah rakyat di seluruh Indonesia.
Ilza menjelaskan SRMA 1 nantinya akan menjadi Sekolah Rakyat milik Kabupaten Aceh Besar. Seluruh siswa akan dipindahkan ke gedung baru yang pengerjaannya dimulai akhir tahun ini.
Siswa Sekolah Rakyat merupakan anak-anak yang masuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) pada desil 1 dan 2. Mereka dijangkau oleh petugas Kementerian Sosial, Dinas Sosial, dan Pendamping Keluarga Harapan (PKH) untuk mendapatkan akses pendidikan.