ACEH — Data wholesales delapan bulan pertama 2026 memperlihatkan peta persaingan yang mulai bergeser. Pabrikan Jepang masih mengisi mayoritas posisi teratas, tetapi merek asal China kini bukan lagi pemain pinggiran.
Dominasi Toyota bertumpu pada jaringan purna jual yang luas dan lini model yang menutup hampir semua segmen, dari city car sampai SUV. Angka 175.931 unit membuat jarak dengan Daihatsu di peringkat kedua terpaut hampir 75.000 unit.
Daihatsu sendiri mencatat 100.884 unit. Posisinya sebagai pemasok kendaraan murah dan lini LCGC masih jadi tulang punggung penjualan.
Suzuki mengisi peringkat ketiga dengan 47.908 unit, hanya berselisih sekitar 4.000 unit dari Mitsubishi Motors yang mengumpulkan 43.753 unit. Selisih ini membuat posisi keduanya rawan berubah jika salah satu merek meluncurkan model baru atau menggenjot promo di sisa tahun.
Gebrakan terbesar datang dari BYD. Produsen kendaraan energi baru ini menempati posisi kelima dengan 37.696 unit, melampaui Honda yang harus puas di urutan ketujuh dengan 26.437 unit.
Jaecoo menyusul di peringkat kedelapan lewat 23.834 unit. Pencapaian itu menandakan minat konsumen terhadap SUV modern berbasis teknologi terkini terus tumbuh, meski merek ini relatif baru di pasar Indonesia.
Mitsubishi Fuso memimpin kendaraan niaga dengan 27.386 unit di peringkat keenam. Isuzu menyusul di posisi kesembilan dengan 19.820 unit, dan Hino menutup daftar sepuluh besar lewat 16.971 unit.
Stabilitas di segmen komersial ini menunjukkan permintaan kendaraan angkutan barang dan niaga belum terganggu gejolak pasar mobil penumpang.
Empat bulan terakhir tahun ini akan menentukan apakah BYD dan Jaecoo mampu menjaga momentum, atau justru tersalip lagi oleh Honda yang punya basis pelanggan setia. Di sisi lain, dominasi Toyota dan Daihatsu sepertinya belum akan tergoyahkan dalam waktu dekat.