SIGLI — Wakil Bupati Pidie Alzaizi menyatakan kepastian pasokan air menjadi faktor utama agar petani bisa menyesuaikan waktu pengolahan lahan, persemaian, dan penanaman. Penegasan itu disampaikan dalam rapat koordinasi yang membahas kesiapan turun sawah menghadapi MT Rendeng 2026-2027.
Pemkab Pidie juga akan memperkuat pendampingan lewat Dinas Pertanian, penyuluh, Pengamat Hama dan Penyakit (PHP), serta Pengawas Benih Tanaman sesuai kebutuhan di lapangan.
Alzaizi menekankan kelembagaan petani harus diperkuat agar koperasi, kelompok tani, jaringan distribusi pupuk, dan penangkar benih dapat berfungsi optimal.
"Selain itu, kelembagaan petani harus diperkuat agar koperasi, kelompok tani, jaringan distribusi pupuk dan penangkar benih dapat berfungsi optimal," kata Alzaizi.
Ia juga menyoroti penurunan luas tanam pada MT Gadu 2026 yang dipengaruhi fenomena El Nino dan perbaikan jaringan irigasi Tiro/Truseb. Pemkab meminta Balai Wilayah Sungai Sumatera I terus berkoordinasi agar rehabilitasi irigasi tidak mengganggu jadwal tanam.
"Kami meminta BWS Sumatera I terus berkoordinasi dengan Pemkab Pidie agar rehabilitasi irigasi tidak mengganggu jadwal tanam," ujarnya.
Kepala Distanpang Pidie Hasballah menyebut produktivitas padi pada MT Gadu 2026 mencapai 6,2 ton per hektare dengan luas tanam 18.428 hektare. Angka itu masih di bawah luas baku sawah Pidie yang mencapai 24.784 hektare.
Berdasarkan laporan penyuluh, tiga kecamatan dengan luas penanaman padi terbesar berada di Sakti, Indrajaya, dan Tangse. Rakor tersebut diikuti 107 peserta dari berbagai unsur terkait.
Pemkab Pidie menargetkan luas tanam 24.713 hektare pada MT Rendeng 2026-2027, mendekati luas baku sawah 24.784 hektare. Realisasi target itu bergantung pada kesiapan irigasi, pasokan air, dan koordinasi lintas instansi di lapangan.