ACEH — Saham SpaceX melonjak hampir 8% ke level tertinggi sejak pertengahan Juli, ditutup di US$ 171,09 per lembar pada Senin (5/10). Morgan Stanley menilai harga saham perusahaan milik Elon Musk itu masih terlalu murah dan merekomendasikan beli dengan target US$ 300 per lembar, atau sekitar 75% di atas harga penutupan terbaru.
Rekomendasi Morgan Stanley tertuang dalam laporan analis yang dirilis sehari sebelum lonjakan harga. Selain target harga US$ 300, analis menyarankan investor masuk sebelum penerbangan uji coba roket Starship berikutnya dan sebelum laporan keuangan kuartal ketiga SpaceX yang diperkirakan rilis akhir Oktober.
Lonjakan hampir 8% pada Senin (5/10) terjadi setelah SpaceX menyelesaikan dua misi peluncuran bersejarah pekan lalu. Harga saham sempat menyentuh rekor US$ 201,8 pada 16 Juni, tak lama setelah pencatatan perdana (IPO) pada 12 Juni, sebelum turun ke titik terendah awal Agustus. Dari level terendah itu, harga saham SpaceX kini sudah naik sekitar 58%.
Starship adalah pesawat luar angkasa generasi berikutnya buatan SpaceX dan menjadi roket terbesar yang pernah dibuat. Roket ini dirancang bisa dipakai berulang kali, dengan bagian atas maupun pendorongnya dapat mendarat kembali ke Bumi dengan aman.
Pada uji penerbangan sebelumnya, bagian atas Starship berhasil mendarat di laut, tetapi belum terbukti apakah komponen itu bisa digunakan lagi. Menurut para ahli, jika uji coba berikutnya membuktikan bagian atas roket mampu dipakai ulang, itu bisa menjadi faktor positif terbesar sejak SpaceX melantai di bursa.
Keberhasilan Starship disebut akan mengerek bisnis SpaceX secara signifikan. Satelit Starlink bisa diluncurkan ke orbit lebih efisien, begitu pula kargo dan awak dari perusahaan maupun lembaga lain yang menjadi klien SpaceX.
Selain roket, SpaceX mendapat dorongan dari bisnis kecerdasan buatan yang dibangun lewat akuisisi xAI milik Musk tahun lalu, lalu diperluas melalui akuisisi perusahaan Cursor baru-baru ini. Meski model Grok belum sesuperior OpenAI dan Anthropic, SpaceX tetap meraup keuntungan signifikan dengan menyewakan kapasitas komputasinya ke perusahaan seperti Google dan Anthropic.
Elon Musk mengatakan pada akhir pekan lalu bahwa divisi AI SpaceX yang sebelumnya bernama SpaceXAI akan berganti nama menjadi SpaceXSI. Langkah itu disebut bagian dari upaya mengikuti konsep branding baru yang diterapkan Presiden Donald Trump.
Kenaikan saham SpaceX mengembalikan status triliuner Elon Musk. Kekayaannya kini mencapai US$ 1,03 triliun, termasuk aset-asetnya di Tesla dan SpaceX.
Bagi investor yang mencermati sektor antariksa dan AI, dua agenda terdekat menjadi penentu: hasil uji terbang Starship dan rilis laporan keuangan kuartal ketiga SpaceX pada akhir Oktober. Morgan Stanley menempatkan keduanya sebagai momen yang layak ditunggu sebelum pasar menilai ulang valuasi perusahaan.