BANDA ACEH — Kesibukan sebagai aparatur sipil negara tidak harus mematikan kepedulian terhadap sesama. Dari prinsip itulah Blood For Life Foundation (BFLF) Indonesia menggulirkan Program Layanan Pegawai Nyambi Sosial (PNS), sebuah gerakan yang meminta pegawai menyisihkan satu jam setiap bulan untuk aktivitas sosial dan kemanusiaan.
Penggagasnya adalah Michael Oktaviano, yang menjabat Ketua Umum BFLF Indonesia sekaligus Sekretaris Dinas Sosial Aceh. Konsepnya sederhana: pegawai tetap menjalankan tugas utama, tetapi mengalokasikan sebagian kecil waktu secara bergiliran untuk membantu masyarakat.
Michael menjelaskan, waktu satu jam tersebut bisa dipakai untuk beragam aktivitas. Mulai dari mendampingi pasien, mengunjungi lansia, membantu penyandang disabilitas, donor darah, mengantar bantuan, hingga membantu warga terdampak bencana.
"Kadang kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain harus memiliki banyak waktu. Padahal, kalau setiap orang menyisihkan satu jam saja dalam sebulan, lalu dilakukan secara bersama-sama dan terorganisir, manfaatnya bisa sangat besar," ujar Michael di Banda Aceh, Senin, 5 Oktober 2026.
Ia menekankan, pegawai tidak perlu meninggalkan pekerjaan atau mengabaikan tanggung jawab utama. Penjadwalan dilakukan bergiliran sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Menurut Michael, dampak terbesar gerakan ini justru muncul dari akumulasi partisipasi. Jika 1.000 pegawai menyumbang satu jam, terkumpul 1.000 jam pengabdian dalam sebulan. Angka itu melonjak jadi 10.000 jam bila 10.000 orang ikut serta, dan mencapai 100.000 jam jika 100.000 pegawai bergerak bersama.
"Bayangkan kalau waktu tersebut digunakan untuk mendampingi pasien, mengunjungi lansia, membantu penyandang disabilitas, mendampingi masyarakat miskin, donor darah, membantu korban bencana, mengantar bantuan, atau memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini bukan lagi sekadar satu jam milik satu orang, tetapi menjadi kumpulan waktu kepedulian yang sangat besar," ujar Michael.
Michael menegaskan, keanggotaan Pegawai Nyambi Sosial tidak dibatasi hanya untuk aparatur sipil negara. Gerakan tersebut terbuka untuk tenaga honorer, pekerja, profesional, komunitas, dunia usaha, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
"Yang kita butuhkan sebenarnya bukan siapa yang paling banyak memberi. Yang kita butuhkan adalah sebanyak mungkin orang yang mau memberikan sedikit dari apa yang mereka punya," katanya.
Ketua BFLF Aceh Selatan yang juga Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa, menyebut gagasan ini lahir dari pengalaman melihat langsung kebutuhan masyarakat di lapangan. Persoalan sosial, menurutnya, tidak selalu menuntut bantuan dalam jumlah besar.
"Seorang pasien mungkin hanya membutuhkan seseorang untuk mengantarkannya berobat. Seorang lansia mungkin hanya membutuhkan seseorang untuk datang dan mendengarkan. Penyandang disabilitas mungkin membutuhkan pendampingan. Keluarga yang sedang kesulitan mungkin membutuhkan bantuan sederhana berupa makanan atau kebutuhan sehari-hari," ujar Gusmawi.
Ia menilai, sesuatu yang tampak sederhana bagi pemberi bisa sangat berarti bagi penerimanya. Karena itu, Pegawai Nyambi Sosial dimaknai bukan semata gerakan mengumpulkan bantuan, melainkan mengumpulkan kepedulian.
"PNS bukan tentang siapa yang paling banyak memberi. Ada orang yang memiliki tenaga, ada yang memiliki kendaraan, keahlian, jaringan, waktu, rezeki, atau kemampuan mendampingi. Bahkan ada yang mungkin hanya mampu hadir dan memberikan semangat. Semuanya berarti," katanya.
Gusmawi menjelaskan, aktivitas dalam gerakan tersebut dapat dilakukan secara bergiliran mengikuti kebutuhan di lapangan. Dalam satu bulan, relawan bisa diarahkan untuk pendampingan pasien. Bulan berikutnya dialihkan ke donor darah, kunjungan lansia, pendampingan penyandang disabilitas, distribusi bantuan, pelayanan kepada mustahik, atau membantu warga terdampak bencana.
"Tidak harus semuanya dilakukan oleh orang yang sama. Bisa bergiliran. Yang penting ada kemauan untuk menyisihkan satu jam dan menghadirkan manfaat bagi orang lain," ujarnya.
Gerakan ini juga dimaksudkan membangun kebiasaan baru di tengah kesibukan masyarakat, bahwa berbuat baik tidak perlu menunggu waktu, uang, atau kemampuan yang melimpah.
"Kadang masyarakat tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang datang, seseorang yang mengantar, seseorang yang mendengarkan, seseorang yang membantu, atau seseorang yang mengatakan: Kami ada di sini. Anda tidak sendiri," tutur Gusmawi.
Pegawai Nyambi Sosial diarahkan menjadi gerakan kolaboratif yang mempertemukan orang-orang dengan waktu, tenaga, keahlian, kendaraan, jaringan, maupun sumber daya lain bersama masyarakat yang membutuhkan.