BANDA ACEH — Kepala OJK Provinsi Aceh Daddi Peryoga menyatakan keberhasilan inklusi keuangan tidak cukup diukur dari luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Menurut dia, ketepatan pemanfaatan dan manfaat nyata yang dirasakan warga menjadi ukuran yang sama pentingnya.
"Keberhasilan inklusi keuangan tidak hanya kita ukur dari luasnya akses, tetapi juga dari ketepatan pemanfaatan dan manfaat nyata yang masyarakat rasakan. OJK terus mendorong industri jasa keuangan untuk menghadirkan solusi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi Aceh," kata Daddi dalam pembukaan kegiatan, Jumat (9/10).
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh Taufik yang mewakili Pemerintah Aceh.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan syariah Aceh sebesar 65,18 persen dan indeks inklusi keuangan syariah sebesar 72,76 persen. Kedua angka itu melampaui indeks nasional yang masing-masing tercatat 43,07 persen dan 13,24 persen.
Aceh menempati peringkat pertama nasional pada kedua indikator tersebut. Kepala Direktorat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah OJK Andi Muhammad Yusuf menyebut capaian itu sebagai modal penting bagi Aceh untuk mengembangkan ekosistem keuangan syariah yang lebih inklusif dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah.
Penguatan ekosistem ekonomi syariah Aceh juga tercermin dari sembilan penghargaan yang diraih provinsi itu dalam Anugerah Adinata Syariah 2026.
Dalam rangkaian puncak BIK Aceh 2026, OJK bersama industri jasa keuangan syariah memperkuat komitmen perluasan akses melalui inisiatif "1 PUJK, 1 Solusi, 1 Komitmen". Program itu mendorong setiap Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) memahami kebutuhan masyarakat, menawarkan solusi yang sesuai, serta memastikan tindak lanjut yang memberi manfaat nyata.
Sejumlah komitmen industri jasa keuangan sepanjang Oktober 2026 antara lain:
Hingga semester I 2026, penyaluran KUR di Aceh tercatat mencapai Rp1,98 triliun kepada 17.267 debitur. Capaian itu menunjukkan peran pembiayaan dalam mendukung aktivitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat akses permodalan produktif.
Daddi menegaskan OJK terus mendorong industri jasa keuangan syariah meningkatkan kontribusinya secara merata. Tujuannya agar manfaat pertumbuhan sektor keuangan dapat dirasakan lebih banyak masyarakat, terutama melalui pengembangan layanan dan pembiayaan produktif.
"Akses membuka kesempatan, solusi menciptakan manfaat, dan komitmen memastikan dampak. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan bahwa setiap perluasan akses keuangan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat," ujar Daddi.
Melalui SYAFIF Goes to Aceh, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai produk dan layanan keuangan syariah, berkonsultasi langsung dengan pelaku industri jasa keuangan, serta mengidentifikasi solusi yang sesuai dengan kebutuhan keuangan mereka.
Taufik mengajak warga memanfaatkan ajang tersebut untuk meningkatkan pemahaman mengenai produk dan layanan keuangan syariah, berkonsultasi dengan industri jasa keuangan, serta menjajaki peluang pengembangan usaha.
Menurut Taufik, pengembangan ekonomi syariah di Aceh harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan.
OJK mendorong Aceh tidak hanya mempertahankan posisi sebagai provinsi dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah tertinggi, tetapi juga menjadi percontohan nasional dalam pemanfaatan keuangan syariah untuk memperkuat ekonomi keluarga, mendukung usaha produktif, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.