BANDA ACEH — Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan kondisi infrastruktur pengendalian banjir di Krueng Aceh secara umum sudah baik. Persoalan yang tersisa ada di muara, tempat sedimen menumpuk dan berpotensi menghambat pergerakan air menuju laut.
Kementerian PU menempatkan pengerukan muara sebagai pekerjaan yang didahulukan. Setelah sedimen diangkat, muara akan diperkuat agar material tidak kembali menumpuk, lalu penanganan berlanjut lewat normalisasi sungai.
Dody menyebut penumpukan sedimen di muara menjadi titik lemah aliran sungai saat debit air naik. Pengerukan dibutuhkan agar air bergerak lebih lancar dan sedimen ikut terdorong ke laut.
"Kondisi infrastrukturnya sudah bagus, ke depannya mungkin muaranya yang mesti kita perhatikan. Jadi, muaranya harus segera kita dredging agar pergerakan air bisa lebih lancar dan sedimen bisa ikut terdorong ke laut," kata Dody saat meninjau lokasi.
Krueng Aceh mengalir melalui Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Panjangnya sekitar 145 kilometer dengan luas Daerah Aliran Sungai mencapai 1.755 kilometer persegi, dirancang mampu menampung debit banjir hingga 1.300 meter kubik per detik.
Erosi di sejumlah bagian sungai memicu longsoran tebing yang membahayakan sarana di sekitarnya, termasuk jalan nasional di sisi sungai. Penanganan dilakukan dengan memasang batu boulder sepanjang total 428 meter.
Rinciannya, 175 meter di sisi kiri dan 253 meter di sisi kanan. Untuk 2027, Kementerian PU merencanakan pemasangan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) dan pembangunan dinding penahan tanah.
Mitigasi bencana diperkuat lewat pembangunan sabo dam di sejumlah wilayah Aceh, termasuk Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Dari rencana sekitar 40 unit, enam sabo dam ditargetkan selesai pada 2026.
Pembangunan berlangsung bertahap hingga 2028. Kementerian PU berencana menambah penanganan sehingga total sabo dam di Aceh menjadi 42 unit.
"Aceh sebenarnya hampir tidak pernah kering dan selalu hujan, sehingga tim kita selalu siaga dan sudah melakukan persiapan khususnya di beberapa wilayah yang pernah bencana seperti Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Salah satunya melalui penambahan beberapa sabo dam yang kita kerjakan," ujar Dody.
Peninjauan pada Selasa, 20 Oktober 2026, mencakup infrastruktur pengendalian banjir dan perkuatan tebing Sungai Krueng Aceh. Pengerukan muara menjadi pekerjaan pembuka sebelum perkuatan dan normalisasi dikerjakan.