Perjalanan Amiruddin Idris Dirikan Universitas Almuslim, dari "Disingkirkan" hingga Nyaris Batal gegara Izin PGSD

Penulis: Teuku Fahreza  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 05:01:31 WIB
Pemilihan pengurus Yayasan Almuslim Peusangan menempatkan Amiruddin Idris di nomor urut terakhir Divisi Pendidikan.

BIREUEN — Pemilihan pengurus Yayasan Almuslim Peusangan menempatkan Amiruddin Idris di nomor urut terakhir Divisi Pendidikan. Padahal pada periode sebelumnya, pria asal Tanoh Mirah, Peusangan, itu dipercaya sebagai Sekretaris Yayasan.

Merasa disingkirkan, Amiruddin memilih menarik diri dari seluruh proses pendirian Universitas Almuslim. Ia beralih menuntaskan tugasnya sebagai Wakil Bupati Bireuen mendampingi Mustafa Glanggang. Kunjungan ke kampus hanya dilakukan sesekali untuk melepas rindu pada perguruan tinggi yang ikut ia bangun bersama para senior.

Izin PGSD Tak Kunjung Terbit, Mahasiswa Berunjuk Rasa

Gejolak muncul dari mahasiswa D-II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Almuslim. Izin operasional program studi itu tak kunjung keluar, sementara pengelola yayasan setiap hari menghadapi protes mahasiswa.

Di titik puncak kegelisahan, mahasiswa menggelar unjuk rasa dan menuntut pertanggungjawaban pihak kampus. Tekanan itu memaksa 20 pengurus Yayasan Almuslim Peusangan bersilaturahmi ke rumah dinas Wakil Bupati Bireuen.

Delegasi dipimpin M. Nur Ismail, sementara Ketua Yayasan Ali Ishak berhalangan ikut rombongan. Mereka membujuk Amiruddin kembali ke Almuslim. Ia bergeming. Rasa sakit karena dipermalukan belum sembuh.

Kalimat H. Man Dayah yang Mengubah Keputusan

Dialog malam itu nyaris deadlock. H. Man Dayah lalu bersuara agak keras, menyebut Amiruddin dikenal luas justru karena Almuslim, dan kursi Wakil Bupati yang ia duduki juga berkat kampus tersebut.

Kalimat itu menyentuh hati Amiruddin. Ia teringat janjinya kepada diri sendiri: bila kelak terpilih menjadi Wakil Bupati, dirinya akan membangun Almuslim.

Namun pertemuan itu masih menyisakan persoalan internal. Sebagian pengurus yayasan menolak kepulangan Amiruddin dengan dalih tidak boleh rangkap jabatan. Akibatnya, ia benar-benar hilang dari kampus selama tiga bulan.

Ali Ishak Ambil Sikap, Surat Mandat Dikirim

Ali Ishak dilanda dilema. Ia harus berdiri di tengah, tetapi risiko besar mengadang: bila tidak bersikap, masa depan D-II PGSD dan cita-cita melahirkan universitas bubar di tengah jalan.

Dengan sikap tegas, Ali Ishak mengundang Amiruddin pulang ke kampus melalui sepucuk surat. Setelah musyawarah di musalla kampus, Amiruddin menerima surat mandat untuk melanjutkan advokasi masa depan D-II PGSD dan rencana pendirian universitas.

Mandat itu dijalankan dengan bantuan Staf Ahli Bupati Bireuen Azwar Thaib. Keduanya berangkat ke Jakarta menghadap Profesor Sukamto, M.M., Direktur Dirjen Pendidikan Dasar di Kementerian Pendidikan.

Kepada Sukamto, Amiruddin memperkenalkan Azwar Thaib sebagai Rektor Almuslim. Ia sendiri mengaku sebagai Bupati Bireuen yang datang karena ada persoalan besar di Almuslim. Pada pertemuan kedua, izin penyelenggaraan PGSD Almuslim terbit. Mereka menang dan pulang ke Bireuen.

Lobi lanjutan berbuah hasil. Izin pendirian Universitas Almuslim pun berhasil didapatkan.

Izin Dijemput Tanpa Namanya, Amiruddin Meledak

Tragedi politik terulang. Pihak yayasan membuat surat mandat kepada dua pengurus untuk menjemput izin pendirian Universitas Almuslim ke Jakarta. Nama Amiruddin tidak dicantumkan.

Kabar adanya dua utusan itu justru ia terima dari seorang staf Kemendikbud. Bahkan ketika surat izin akhirnya dibawa pulang ke Almuslim, tak ada yang memberitahu Amiruddin.

Kali ini kemarahannya meledak. Ia mendamprat Ketua Yayasan Almuslim Peusangan.

"Kukira selama ini Anda adalah orangtua di Almuslim. Rupanya Anda belum tua. Setelah Anda menugaskan saya membantu semua prosesnya, hasilnya diambil oleh orang lain tanpa memberitahukan kepada saya. Jangan permainkan saya, karena saya juga punya batas kesabaran!" kata Amiruddin, dikutip dari catatan sejarah berdirinya Universitas Almuslim.

Banyak pihak terkejut. Mereka tak mengira Amiruddin bisa marah sekeras itu.

Rekonsiliasi dan Komitmen Kembali ke Tujuan Awal

Ledakan kemarahan itu memaksa rekonsiliasi dilakukan. Ali Ishak secara khusus meminta maaf. Mereka kembali berangkulan dan berkomitmen pada tujuan awal: segenap jerih payah ditujukan untuk melahirkan Universitas Almuslim.

Dinamika organisasi di Almuslim, menurut catatan tersebut, diselesaikan dengan cara-cara bermartabat. Tak ada kepentingan yang lebih besar dari berdirinya universitas yang menjadi cita-cita para pendirinya.

Reporter: Teuku Fahreza
Sumber: komparatif.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top