ACEH — Ira Swara, Lala Widy, dan Inul Daratista termasuk penyanyi dangdut yang berharap anaknya tidak mengikuti jejak mereka di industri hiburan. Alasan mereka beragam, mulai dari khawatir soal waktu istirahat, ingin anak fokus pendidikan, hingga harapan meneruskan bisnis keluarga. Sikap ini muncul setelah mereka merasakan sendiri kerasnya perjalanan karier di panggung dangdut.
Menjadi penyanyi dangdut memang menjanjikan popularitas dan penghasilan. Namun sejumlah nama senior justru memilih bersikap hati-hati ketika anak mereka menunjukkan minat pada dunia yang sama. Pengalaman panjang di industri membuat mereka tahu bahwa gemerlap panggung menyimpan tuntutan yang tidak ringan.
Jadwal tampil yang padat, perjalanan jauh menuju lokasi acara, sampai lingkungan pergaulan menjadi pertimbangan utama. Keinginan agar anak tidak ikut terjun ke dunia hiburan bukan berarti bakat mereka diabaikan. Beberapa penyanyi tetap memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan minat, asal tidak terburu-burui.
Ira Swara pernah terbuka soal keengganannya melihat putrinya, Yunia Syahrie atau Nia, mengikuti jejak sebagai penyanyi. Kekhawatiran itu lahir dari pengalamannya sendiri selama bertahun-tahun di dunia hiburan.
Bagi Ira, menjadi penyanyi bukan sekadar tampil di panggung dan menerima tepuk tangan. Ada tuntutan pekerjaan yang sulit diprediksi, dari jadwal tampil hingga perjalanan menuju lokasi acara. Kondisi itu bisa memangkas waktu istirahat dan kesempatan berkumpul bersama keluarga.
Ira tidak ingin Nia menghadapi kesibukan yang berpotensi mengganggu keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan kesehatan. Ia juga menyoroti lingkungan pergaulan di industri hiburan yang menurutnya perlu dicermati sebagai orang tua.
Meski begitu, Ira tidak menutup pintu bagi minat anak. Nia diketahui tertarik pada musik, meski arahnya lebih dekat ke pop dan girlband Mawar. Ketika melihat keseriusan putrinya, Ira akhirnya memberi dukungan. Sikap itu menunjukkan kekhawatiran orang tua tidak selalu berarti penolakan mutlak.
Lala Widy juga belum ingin mengarahkan anaknya, Syahdu Widy, menekuni profesi penyanyi. Walau tahu sang anak suka bernyanyi, Lala memilih agar Syahdu memprioritaskan pendidikan lebih dulu.
Masa depan anak menurut Lala tidak seharusnya terlalu cepat diarahkan ke profesi yang penuh ketidakpastian. Dunia tarik suara bisa membuka peluang dikenal luas dan memperoleh penghasilan, tetapi jalan menuju keberhasilan tidak selalu mulus.
Pengalaman masa awal karier ikut membentuk pandangannya. Lala pernah bercerita soal kesulitan ketika belum memiliki kendaraan sendiri untuk menunjang aktivitas. Ia harus meminjam kendaraan dan menjalani berbagai keterbatasan bersama keluarganya.
Kesibukan sebagai penyanyi juga membuat Lala menyadari waktu untuk keluarga dan kehidupan pribadi berkurang. Ia mengungkapkan penyesalan karena aktivitas bernyanyi yang semakin padat membuat waktunya terasa makin terbatas. Karena itu, Lala ingin Syahdu punya kesempatan belajar dan mengenali minatnya tanpa beban tuntutan pekerjaan sejak dini.
Inul Daratista termasuk penyanyi yang pernah menyatakan tidak berharap anaknya, Yusuf Ivander Damares, mengikuti jejaknya di dunia hiburan. Alih-alih menjadi artis, Inul berharap putra semata wayangnya itu meneruskan bisnis keluarga atau menekuni bidang lain.
Keinginan itu pernah disampaikan Inul saat berbicara mengenai masa depan anaknya. Baginya, dunia hiburan bukan satu-satunya jalan untuk sukses, dan bisnis yang sudah dibangun keluarga bisa menjadi pilihan yang lebih stabil.
Pandangan para penyanyi dangdut ini memperlihatkan satu benang merah. Mereka tidak anti terhadap minat anak di dunia seni, tetapi ingin anak memahami konsekuensi sebuah profesi sebelum benar-benar memutuskan. Pendidikan, kesehatan, dan keseimbangan hidup tetap menjadi prioritas yang mereka jaga.