ACEH SELATAN — Serangan penyakit tanaman telah melumpuhkan separuh area perkebunan pala di Aceh Selatan. Dari total 14.000 hektare kebun pala yang menjadi tulang punggung ekonomi warga, hanya separuhnya yang masih produktif. Kepala Dinas Perkebunan Aceh Selatan, Nyaklah, menyebut kondisi ini dipicu oleh tiga jenis penyakit utama: jamur akar putih, penyakit batang, dan penyakit daun.
Anggaran Bibit Dialihkan ke Pengendalian Penyakit
Nyaklah mengatakan, pemerintah daerah kini lebih memprioritaskan pengendalian penyakit ketimbang distribusi bibit baru. Salah satu program yang berjalan adalah Sekolah Lapang (SL) bagi petani pala.
“Petani kita ajarkan cara mengidentifikasi dan mengendalikan penyakit langsung di kebun,” ujarnya saat ditemui Waspadaaceh.com, Kamis (11/6/2026).
Program pelatihan ini telah berlangsung selama beberapa bulan. Petani dibekali teknik mengenali gejala serangan hama dan jamur sejak dini agar penyebaran bisa ditekan.
Pala Aceh Selatan Sudah Bersertifikat Indikasi Geografis
Meski produksi menurun, pamor pala Aceh Selatan di pasar tetap tinggi. Daerah ini telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG) yang melindungi identitas dan kekhasan produknya agar tidak mudah ditiru daerah lain. Saat ini, pemerintah juga mendorong sertifikasi IG untuk varietas pala lainnya guna memperkuat branding komoditas lokal.
Dari sisi harga, biji pala di tingkat petani masih bertahan di kisaran Rp 25.000 hingga Rp 26.000 per kilogram. Sementara itu, fuli atau bunga pala (mace) memiliki nilai jauh lebih tinggi, yakni sekitar Rp 280.000 hingga Rp 290.000 per kilogram. Produk turunan seperti minyak atsiri juga dihargai ratusan ribu rupiah per kilogram.
Usulan Unit Riset Khusus Pala Belum Terealisasi
Pemerintah daerah sebelumnya pernah mengusulkan pembentukan unit penelitian khusus pala di Aceh Selatan untuk menangani persoalan penyakit secara lebih komprehensif. Namun, hingga kini usulan tersebut belum terealisasi.
Di tengah upaya pengendalian, berkembang pula pandangan masyarakat bahwa menurunnya populasi burung murai turut memicu meningkatnya serangan hama. Burung murai diyakini sebagai predator alami yang membantu mengontrol hama di kebun pala. Pemerintah daerah sebelumnya pernah menjalankan program penangkaran dan pelepasliaran burung murai sebagai bagian dari konservasi.
Diversifikasi Produk: Kopi hingga Bir Pala
Untuk menambah nilai ekonomi, pala kini mulai diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti kopi pala, bir pala, minuman herbal, hingga produk kuliner lainnya. Upaya ini diharapkan bisa menjadi penyangga ekonomi petani di tengah menurunnya hasil panen.
Nyaklah menekankan, pala bukan sekadar komoditas unggulan, melainkan tanaman bernilai historis yang telah menjadi sumber penghidupan masyarakat Aceh Selatan secara turun-temurun. “Bahkan bibitnya pernah kita kirim ke berbagai daerah seperti Papua, Manado, Padang, hingga Pidie Jaya,” katanya.
Tanpa penanganan yang lebih terstruktur, ikon daerah ini berpotensi terus menyusut, baik dari sisi luas lahan maupun volume produksi.