Pencarian

Film Lobang Buaya Tayang Perdana di Hari Kesaktian Pancasila

Kamis, 01 Oktober 2026 • 17:30:31 WIB
Film Lobang Buaya Tayang Perdana di Hari Kesaktian Pancasila
Film Lobang Buaya karya Hanung Bramantyo resmi tayang perdana pada Hari Kesaktian Pancasila, Kamis (1/10/2026).

ACEH — Film terbaru Hanung Bramantyo, Lobang Buaya, resmi tayang perdana bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, Kamis (1/10/2026). Cerita film ini menyentuh peristiwa 30 September 1965, tetapi dikemas dalam genre horor dan misteri. Penonton diajak menyelami misteri pembunuhan berantai di sebuah desa pada 1964.

Hanung Bramantyo menggarap film Lobang Buaya dengan latar Desa Lobang Buaya pada 1964, sekitar setahun sebelum peristiwa G30S. Alur cerita berpusat pada Letnan Soegeng, seorang tentara yang dikirim untuk menyelidiki rangkaian pembunuhan misterius di desa tersebut.

Sinopsis dan Premis Cerita

Kisah dibuka dengan kedatangan Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) ke Desa Lobang Buaya. Ia tidak datang sendirian, melainkan bersama Arum Wangi (Carissa Perusset), istri sekaligus adik angkatnya. Keduanya hendak menjemput ayah mereka yang sedang sakit-sakitan, diperankan Mathias Muchus.

Sang ayah merupakan sosok yang disegani di desanya dan sangat disayangi Soegeng. Karena itu, Soegeng tidak banyak membantah ketika diminta menikahi Arum, perempuan yang dibesarkan bersamanya sejak kecil.

Setibanya di desa, Arum justru mengalami teror gaib dari sosok wanita misterius. Soegeng sempat menampik hal-hal mistis, tetapi korban terus berjatuhan.

Misteri Pembunuhan Berantai

Para korban dalam cerita ditemukan tewas dengan punggung berlubang dan sayatan yang membentuk kata sindiran di tubuh mereka. Kata-kata seperti goroh (pembohong), cengkiling (sifat keji dan penuh amarah), dan tamak ditorehkan pelaku di atas tubuh korban.

Korban yang dikenal punya pengaruh itu meliputi pejabat, petugas keamanan desa, hingga kyai pemimpin pondok. Suasana makin mencekam dengan kemunculan rumor sosok "Hantu Bolong", wanita dengan punggung berlubang yang mengiringi setiap kejadian.

Sebagian warga desa meyakini PKI berada di balik peristiwa berdarah ini. Partai itu diketahui memiliki gerakan menumpas 7 setan desa, yakni sosok yang dinilai menindas masyarakat. Tensi sosial di desa pun kian memanas.

Dua Nuansa dalam Satu Film

Plot Lobang Buaya dipecah dalam dua fokus dengan nuansa berbeda. Letnan Soegeng diarahkan menghadirkan genre misteri bergaya whodunnit, dengan pendekatan prosedural dalam penyelidikan kriminal untuk mengungkap pelaku kejahatan.

Menarik melihat gaya penelusuran ala detektif dibawa ke pedesaan Indonesia era 60-an. Sebagian kesimpulan yang diambil sang Letnan terasa begitu instan, tampaknya untuk menjaga agar cerita tidak berlarut-larut.

Pemilihan tanggal rilis Lobang Buaya yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila menambah lapisan konteks tersendiri bagi penonton yang menyimak kaitannya dengan sejarah kelam bangsa.

Follow iniaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks