BIREUEN — Festival Meurukon 2026 menjadi bagian dari peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen. Kegiatan berlangsung tiga malam di pentas utama Halaman Pendopo Bireuen, dengan tema "Bireuen Kota Santri, Tanah Juang Pusaka Bangsa".
Apa Itu Meurukon dan Mengapa Dipertandingkan
Meurukon adalah seni tutur tradisional Aceh berisi penyampaian syiar-syiar agama kepada masyarakat. Panitia kegiatan, Azmi, menyebut tradisi ini sudah mendapat pengakuan resmi sebagai warisan budaya.
"Saat ini Kabupaten Bireuen telah sertifikat Warisan Budaya tak benda (WBTb) yaitu meurukon," ungkap Azmi yang juga menjabat Kepala Sekretariat MAA Bireuen.
Selain menyemarakkan HUT kabupaten, festival ini bertujuan melestarikan meurukon sebagai warisan budaya endatu. Ajang ini juga menjadi ruang mempererat kebersamaan antar-kecamatan.
Jadwal Tampil 17 Grup Selama Tiga Malam
Malam pertama, Senin (5/10/2026), menampilkan 5 grup dari Kecamatan Pandrah, Gandapura, Samalanga, Peusangan Siblah Krueng, dan Juli.
Malam kedua, Selasa (6/10/2026), menampilkan 6 grup dari Kecamatan Kota Juang, Jangka, Peulimbang, Peusangan, Makmur, dan Peudada.
Malam ketiga, Rabu (7/10/2026), menampilkan 6 grup dari Kecamatan Kuala, Kuta Blang, Jeunieb, Peusangan Selatan, Simpang Mamplam, dan Jeumpa.
Hadiah Rp5 Juta untuk 6 Penyaji Terbaik
Enam penyaji terbaik masing-masing menerima Anugerah Kebudayaan, penghargaan, dan uang pembinaan Rp5.000.000. Sebanyak 11 kecamatan yang masuk nominasi masing-masing mendapat Anugerah Kebudayaan, penghargaan, dan uang pembinaan Rp1.000.000.
Peserta diwajibkan berdomisili di kecamatan masing-masing, dibuktikan dengan fotokopi KTP atau KTA.
"Peserta diwajibkan berdomisili di kecamatan masing-masing dibuktikan dengan foto copy KTP/KTA," jelas Azmi.