ACEH — SpaceX meneken kesepakatan akuisisi lisensi spektrum radio senilai sekitar USD 8 miliar atau setara Rp 143 triliun untuk memperkuat layanan Starlink Mobile. Lisensi pita 800 megahertz itu disebut menjadi kepingan terakhir yang dibutuhkan SpaceX agar sinyal seluler satelitnya menembus dalam gedung. Transaksi ini langsung mengguncang pasar telekomunikasi Amerika Serikat.
Pembayaran dilakukan tunai, menurut sejumlah sumber yang mengetahui jalannya negosiasi. Lisensi yang dibidik mencakup frekuensi di pita 800 megahertz, spektrum yang selama puluhan tahun dipakai menara seluler darat untuk memancarkan sinyal nirkabel.
Kabar ini langsung memukul saham tiga operator besar AS. AT&T, Verizon, dan T-Mobile kompak anjlok pada hari Jumat begitu berita akuisisi beredar. Di sisi lain, saham SpaceX justru naik sekitar 2%.
Mengapa Spektrum 800 MHz Jadi Kunci
Starlink selama ini dikenal sebagai penyedia broadband satelit. Spektrum pita rendah mengubah posisinya: layanan Starlink Mobile bisa menyasar pasar komunikasi seluler secara langsung, bukan lagi sekadar pelengkap koneksi di daerah terpencil.
SpaceX menyatakan spektrum tersebut memungkinkan perusahaan menggabungkan koneksi satelit ke telepon dengan jaringan darat. Jaringan gabungan ini diklaim menghadirkan jangkauan seluler lebih mulus, terutama di lokasi yang selama ini sulit ditembus sinyal satelit, seperti bagian dalam bangunan.
"Ini adalah kepingan teka-teki spektrum penting terakhir yang dibutuhkan SpaceX untuk menyediakan jangkauan telepon yang menyeluruh di Amerika," kata CEO SpaceX Elon Musk, seperti dikutip CBS.
Pihak SpaceX menegaskan hal serupa. "Spektrum pita rendah utama ini mengatasi salah satu celah teknis utama yang tersisa, yang akan membuka jalan bagi Starlink Mobile untuk menjadi operator seluler besar di AS," ujar perusahaan.
15.000 Satelit Baru dan Jalan Menuju Operator Seluler
FCC telah menyetujui permohonan Starlink Mobile untuk meluncurkan 15.000 satelit yang dirancang memancarkan sinyal di pita 2 gigahertz. Satelit-satelit ini dapat terhubung langsung dengan telepon seluler pengguna, tanpa perangkat tambahan.
Kombinasi dua pita frekuensi itu memperjelas arah ekspansi SpaceX. Perusahaan tidak lagi berhenti di layanan pita lebar satelit, melainkan masuk lebih dalam ke pasar komunikasi seluler dan bersaing langsung dengan operator besar AS.
Sejauh ini SpaceX tampak bertekad menghadirkan layanan sendiri tanpa menggandeng operator telekomunikasi incumbent.
Menunggu Restu FCC dan Catatan Analis
Kesepakatan akuisisi masih menunggu persetujuan Komisi Komunikasi Federal AS (FCC). Tanpa restu regulator, transaksi senilai Rp 143 triliun ini belum bisa dieksekusi.
Analis menilai ambisi SpaceX tidak otomatis mulus. Tim Farrar dari TMF Associates mengingatkan keterbatasan spektrum yang tersedia.
"Hal ini makin memanaskan persaingan antara SpaceX dan operator seluler. Namun jumlah spektrumnya masih sangat terbatas, dan untuk mendapatkan penetrasi sinyal yang andal hingga ke dalam bangunan di wilayah perkotaan, SpaceX harus membangun menara di darat," ujar Farrar.
Artinya, kemenangan di meja lelang spektrum belum cukup. SpaceX tetap perlu infrastruktur terestrial jika ingin menawarkan kualitas sinyal dalam ruangan yang setara operator mapan di kota-kota besar.
Implikasi bagi Pasar Telekomunikasi
Langkah SpaceX mempertegas tren konvergensi satelit dan seluler yang mulai terlihat di berbagai negara. Operator tradisional kini berhadapan dengan pemain baru yang tidak terikat biaya pembangunan menara di setiap wilayah.
Bagi pasar Indonesia, dinamika ini relevan menyusul kehadiran layanan internet satelit di Tanah Air. Jika model bisnis Starlink Mobile terbukti di AS, operator lokal berpotensi menghadapi tekanan serupa dalam beberapa tahun ke depan.
Yang jelas, persaingan di AS baru akan ditentukan setelah FCC mengambil keputusan atas akuisisi spektrum ini.