ACEH — Quarter life crisis jadi fase yang makin sering dibicarakan anak muda usia 20-an hingga awal 30-an. Drama Korea ternyata menyimpan banyak pelajaran soal ini lewat tokoh-tokohnya yang jauh dari kata sempurna.
Kecemasan soal masa depan, rasa insecure melihat pencapaian teman sebaya, dan kebingungan soal tujuan hidup bukan hal yang harus dihadapi sendirian. Tujuh karakter drakor berikut menawarkan cara pandang berbeda untuk melewatinya.
1. Hwang Dong Man: Mimpi yang Tertunda Bukan Berarti Gagal
Dalam drama We Are All Trying Here, Hwang Dong Man adalah satu-satunya anggota The Eight yang belum berhasil debut sebagai sutradara film, padahal sudah berjuang dua puluh tahun lamanya.
Teman seangkatannya sudah jadi sutradara dan produser sukses, sementara ia masih terjebak di titik yang sama dan kerap dipandang sebelah mata. Insecure membuatnya mudah tersinggung dan sok tahu demi pengakuan.
Titik baliknya datang saat bertemu Byeon Eun A, produser yang melihat sisi lain dirinya yang selama ini tak dihargai. Keterlambatan meraih mimpi bukan tanda dirinya tak berharga.
2. Yeom Mi Jeong: Mengakui Kekosongan adalah Langkah Pertama
Yeom Mi Jeong di My Liberation Notes adalah pekerja kantoran yang hidupnya tampak biasa saja dari luar, tapi menyimpan kehampaan mendalam di dalam.
Setiap hari ia menjalani rutinitas sama, bekerja di Seoul lalu pulang ke pinggiran kota yang jauh, tanpa satu pun momen yang membuatnya merasa benar-benar hidup. Ia pendiam dan sulit mengekspresikan perasaan.
Kehampaan ini jadi bagian tak terlihat dari quarter life crisis: secara kasat mata semua baik-baik saja, tapi ada kekosongan yang sulit dijelaskan. Mengakui rasa kosong itu sendiri adalah langkah awal mencari makna.
3. Shin Seo Ri: Karier Redup Tak Menutup Semua Peluang
Shin Seo Ri di drama My Royal Nemesis dulunya aktris cilik yang cukup dikenal, namun kariernya meredup begitu beranjak dewasa hingga harus puas jadi pemeran pengganti.
Situasi itu membuatnya merasa terjebak dalam bayang-bayang kesuksesan masa lalu yang tak kunjung terulang. Titik baliknya datang saat jiwa Kang Dan Shim, selir era Joseon yang penuh ambisi, menumpangi dirinya.
Perpaduan kepribadian keduanya perlahan membuat Seo Ri lebih berani mengejar kembali mimpinya sebagai aktris. Karier yang sempat redup bukan berarti kesempatan sudah tertutup.
4. Oh Yi Young: Status Pengulang Bukan Penentu Nilai Diri
Oh Yi Young dalam Resident Playbook digambarkan sebagai dokter residen tahun pertama yang kembali menjalani pendidikan spesialisasi demi melunasi utang, setelah sempat gagal dan mengulang di tahun-tahun sebelumnya.
Statusnya sebagai pengulang membuatnya sering dipandang sebelah mata oleh rekan maupun atasan di rumah sakit. Meski begitu, Yi Young tidak membiarkan status itu mendefinisikan dirinya.
Ia tetap berusaha menjadi dokter yang penuh empati dan bertanggung jawab terhadap pasiennya, bahkan ketika sedang berjuang dengan masalah finansial dan tekanan pekerjaan yang berat.
5. Pelajaran Soal Waktu yang Tidak Sama untuk Semua Orang
Dari Dong Man, Mi Jeong, Seo Ri, hingga Yi Young, benang merahnya jelas: setiap orang punya garis waktu hidup yang berbeda. Membandingkan pencapaian sendiri dengan orang lain hanya menambah beban yang tidak perlu.
Quarter life crisis sering muncul justru karena kita mengukur diri dengan standar orang lain, bukan dengan proses yang sedang kita jalani sendiri.
6. Pentingnya Sosok yang Melihat Nilai Diri Kita
Baik Dong Man maupun Yi Young sama-sama menemukan titik balik lewat kehadiran orang lain yang melihat potensi mereka saat mereka sendiri sudah meragukannya.
Dukungan dari satu orang saja bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap dirinya sendiri. Ini pengingat bahwa lingkungan yang sehat turut menentukan cara kita melewati masa sulit.
7. Keberanian Mengubah Cara Pandang
Seo Ri dan Mi Jeong menunjukkan bahwa mengubah cara pandang bisa jadi kunci keluar dari kebuntuan. Seo Ri butuh keberanian ekstra setelah kariernya redup, sementara Mi Jeong mencari makna baru dari hidup yang terasa hampa.
Quarter life crisis tidak selalu selesai dengan solusi besar. Terkadang cukup dengan mengakui apa yang dirasakan, lalu mengambil langkah kecil untuk memperjuangkan hal yang benar-benar diinginkan.
Ketujuh karakter ini membuktikan bahwa fase quarter life crisis bukan tanda kelemahan, melainkan bagian wajar dari perjalanan hidup. Pelajaran dari mereka bisa jadi cermin sekaligus pengingat bahwa setiap orang berhak menemukan jalannya sendiri.