ACEH — Madonna resmi merilis album Confessions II pada 3 Juli, sekuel dari Confessions on a Dance Floor yang kembali digarap bersama produser Stuart Price. Album ini memuat 14 trek baru, termasuk duet dengan putrinya Lola bertajuk "The Test" serta lagu emosional tentang mendiang ibu tiri dan saudaranya. Madonna juga meraih Artist of the Year di MTV VMA tahun ini berkat album tersebut.
Stuart Price mengungkap proses kreatif di balik Confessions II dalam episode terbaru podcast Rolling Stone Music Now. Produser asal Inggris itu menuturkan sesi rekaman dimulai di studio pribadinya di London, tempat ia dan Madonna menyepakati satu minggu percobaan yang berujung pada lahirnya lagu baru di hari pertama.
Lagu Pertama yang Membuka Babak Baru
"Good for the Soul" lahir pada hari pertama Madonna kembali ke studio bersama Price. Lagu itu menjadi penentu arah seluruh album.
"Kami datang ke London ke studio saya di sini, dan kami hanya bilang, 'Ayo lakukan seminggu dan lihat apa yang terjadi,'" kata Price dalam wawancara tersebut.
Menurut Price, "Good for the Soul" adalah lagu sederhana tentang sentuhan, koneksi, dan kebebasan yang terasa menyenangkan. Lagu itu membuka babak baru penulisan lagu yang lebih bertumpu pada kondisi psikologis Madonna saat ini.
Judul Sekuel yang Datang Secara Alami
Price menyebut kelanjutan kerja sama dengan Madonna berjalan sangat natural. Ia menilai faktor waktu sama sekali bukan penghalang.
"Hal yang paling menonjol adalah betapa naturalnya kelanjutan ini," ujarnya. "Saya suka cara dia menulis, cara dia terdengar, bagaimana lagu-lagunya menyatu, dan betapa menyenangkannya prosesnya."
Ia menambahkan, sekitar pekan kedua pengerjaan, keduanya menyadari bahwa bunyi Confessions sejatinya adalah bunyi kolaborasi mereka. Banyak proses bermusik berjalan tanpa verbal, sehingga ide-ide bisa bergerak cepat.
Confessions II Diklaim Melihat ke Depan
Madonna disebut Price bertekad tidak menoleh ke belakang. Confessions on a Dance Floor dirilis pada 2005, dan menurut Price, melihat ke belakang hanya membawa sejauh itu.
"Jika Confessions One benar-benar tentang menari sebagai kebebasan, Confessions II jauh lebih tentang konfrontasi dan penerimaan," kata Price. "Ini mengusulkan gagasan kerentanan sebagai kekuatan."
Ia menjelaskan, kata "confession" atau pengakuan kerap diasosiasikan dengan rasa malu. Album ini, menurutnya, membingkai ulang gagasan itu sebagai kekuatan, keberanian, dan keberanian untuk berbagi.
DNA Musik House dari Mixtape di Tur
Price mengungkap akar musik house dalam album ini berasal dari mixtape yang ia buat untuk Madonna selama tur. Salah satu mixtape memuat lagu "French Kiss" milik Lil Louis yang memicu lahirnya "I Feel So Free".
Dalam tur Celebration, Price rutin membuatkan mixtape untuk pesta atau sesi olahraga Madonna. Referensi yang dipakai banyak berbasis rekaman house dari artis yang ia sukai, seperti Kevin Saunderson, DJ Pierre, Frankie Knuckles, dan Mr. Fingers.
Madonna lantas membawa masuk lagu "French Kiss" dan menyukai vokal di dalamnya. Di New York, lagu itu digabung dengan trek bernuansa hipnotik yang sudah dibangun di London.
"Dia bilang, 'Nyalakan mikrofonnya. Biarkan aku mulai merekam,'" cerita Price. Madonna kemudian masuk ke kondisi mental tentang bagaimana musik dansa membuatnya merasa aman, dan bagaimana lantai dansa menjadi semacam tempat berlindung.
Duet dengan Lola dan Lagu untuk Mendiang Keluarga
Confessions II juga memuat lagu-lagu paling emosional dalam karier Madonna. "The Test" adalah duet dengan putrinya, Lola, sementara "Betrayal" dan "Fragile" mengangkat kisah mendiang ibu tiri serta mendiang saudaranya, Christopher Ciccone.
Selain itu, Madonna tetap menampilkan kekuatan popnya lewat duet dengan Sabrina Carpenter di "Bring Your Love" dan nostalgia era delapan puluhan dalam "Danceteria".
Panggung VMA dan Posisi di Industri
Rangkaian materi Confessions II mengantar Madonna meraih gelar Artist of the Year di MTV VMA tahun ini. Ia membuka acara lewat penampilan yang dipenuhi bintang tamu, penampilan pertamanya di ajang itu setelah 23 tahun.
Bagi pasar musik Indonesia, perilisan Confessions II menambah deretan album pop dance yang menyasar penggemar musik dansa lintas generasi. Madonna masih tercatat sebagai salah satu artis pop paling berpengaruh yang terus bereksperimen dengan bunyi klub.