BANDA ACEH — Rokhmin Dahuri mengambil posisi di shaf jamaah begitu azan Subuh berkumandang dari menara Masjid Raya Baiturrahman. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 itu hadir bukan sebagai pembicara, melainkan sebagai jamaah biasa yang datang untuk sholat berjamaah.
Kedatangan Rokhmin tidak didahului pengaturan protokoler. Ia membaur bersama ribuan warga yang memenuhi ruang utama masjid, berdiri sejajar di antara mereka sejak takbir pertama.
Siapa Rokhmin Dahuri di Panggung Nasional
Rokhmin kini menjabat Anggota Komisi IV DPR RI dan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan. Di kalangan akademisi, namanya lekat sebagai Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University.
Ia kerap dijuluki Bapak Poros Maritim dan Arsitek Ekonomi Biru Indonesia. Dalam berbagai forum internasional, Rokhmin biasa berbicara soal strategi kelautan dunia, ekonomi biru, dan kedaulatan pangan.
Halaqah Subuh yang Direlay hingga Mancanegara
Usai sholat, Masjid Raya Baiturrahman melanjutkan tradisi Halaqah atau Kuliah Subuh. Kajian ini diasuh bergiliran oleh para ulama, pakar, dan cendekiawan.
Radio Baiturrahman menyiarkan langsung halaqah tersebut. Siarannya kerap direlay hingga ke mancanegara, menjadikan masjid ini magnet spiritual bagi diaspora Aceh.
Rokhmin duduk bersila di antara jamaah selama kajian berlangsung. Ia menyimak paparan, sesekali mengangguk dan mencatat, lalu melantunkan dzikir bersama jamaah lain.
Jamaah Terharu Satu Shaf dengan Tokoh Nasional
Seorang jamaah asal Lampriet, Banda Aceh, mengaku tidak menyangka bisa berada satu shaf dengan Rokhmin. Menurutnya, tokoh nasional itu bersikap tawadhu dan menyalami jamaah seusai sholat.
"Alhamdulillah, kami tidak menyangka bisa satu shaf dengan Prof. Rokhmin. Beliau sangat tawadhu, menyalami jamaah setelah sholat. Ini menjadi teladan bahwa setinggi apapun ilmu dan jabatan, tempat kembali terbaik adalah rumah Allah," ujar jamaah tersebut.
Pemandangan itu kontras dengan keseharian Rokhmin di forum-forum kenegaraan. Di Serambi Mekkah, ia memilih merunduk khusyuk di barisan jamaah Subuh, mencari bekal yang berbeda dari agenda rapat dan sidang di Senayan.