Pengusaha Aceh Ismail Rasyid Raih Gelar Doktor Cumlaude di Hari Sumpah Pemuda, Kini Pimpin Perusahaan Logistik Jaringan 80 Negara

Penulis: Zulkifli Arief  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:31:01 WIB
Ismail Rasyid dikukuhkan sebagai doktor dengan IPK 3,87 dalam wisuda Institut Transportasi dan Logistik Trisakti di Jakarta International Convention Center.

JAKARTA — Ismail Rasyid dikukuhkan sebagai doktor dalam prosesi wisuda Institut Transportasi dan Logistik Trisakti yang digelar di Jakarta International Convention Center. Dari 873 wisudawan, 28 orang lulus dari Program Studi Manajemen jenjang S3 dan resmi menyandang gelar Doktor.

Selain 28 doktor baru, kampus itu melepas 107 lulusan Magister Manajemen, 636 sarjana, dan 102 lulusan Diploma III. Pria kelahiran 3 Juli 1968 tersebut menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,87.

Disertasi soal Rantai Pasok dan Daya Saing Ekspedisi

Gelar doktor diraih Ismail lewat disertasi berjudul "Analysis Of The Effect Of Supply Chain Integration, Digital Supply Chain And Network Embeddedness On Competitive Perfomance And Innovation Perfomance At National And International Freight Forwarding Companies". Penelitian itu mengupas pengaruh integrasi rantai pasok, rantai pasok digital, dan keterlekatan jaringan terhadap daya saing serta inovasi perusahaan ekspedisi muatan nasional dan internasional.

Sebelum menempuh S3, Ismail menyelesaikan S2 Master Transportasi (M.M.Tr) dan S1 Ekonomi Studi Pembangunan. Kepada media, CEO PT Trans Continent itu menyampaikan terima kasih dan syukur kepada Allah SWT serta keluarganya atas gelar akademik yang diraih.

Dari Kernet Labi-labi hingga Bos Logistik 80 Negara

Jalan Ismail menuju gelar doktor tidak mulus. Ia lahir di Matangkuli, Aceh Utara, dari keluarga pas-pasan. Ayahnya seorang utoh atau tukang rumah kayu, ibunya bukan wanita karier. Ismail adalah anak kedua dari enam bersaudara.

Sambil kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, ia bekerja sebagai kernet labi-labi jurusan Pasar Aceh–Darussalam dan berjualan buah. Saat Pekan Kebudayaan Aceh di Blang Padang, Ismail membeli buah dari agen di Takengon lalu menjualnya kembali di arena PKA.

Setelah lulus pada 1993, Aceh tengah dilanda konflik bersenjata dan lapangan kerja sulit. Ismail merantau ke Batam dan merangkak dari bawah: Store Supervisor di CV Oscarindo Batam Pertiwi, Team Chief di PT Singapore Indobatam Co, Airfreight Coordinator PT Ritra Cargo, Branch Manager Citylink Transindo, hingga General Manager dan Managing Director C&P Logistics Indonesia.

19 Cabang di 11 Provinsi dan Dua Kantor Luar Negeri

Pada 2003, Ismail mendirikan PT Trans Continent di bawah bendera Royal Group. Dari kantor rintisan, perusahaan itu kini punya 19 cabang di 11 provinsi Indonesia, termasuk di Kota Sibolga, Sumatera Utara, plus dua cabang luar negeri di Australia dan Filipina. Jaringan kerjanya menembus lebih dari 80 negara.

Ismail juga membawahi empat perusahaan lain: PT Royal Indonesia di bidang perdagangan dan ekspor-impor, PT Royal Marine di bidang pelayaran, PT Equator Media Vaganza di bidang media, serta PT Royal Andalas Energi di bidang bongkar muat. Kantor pusatnya berada di Seutui, Banda Aceh.

Kegiatan sosial dan penyaluran CSR perusahaan membuat Ismail kerap bersua dengan awak media di Aceh. Sikap ramahnya disebut membuat para jurnalis nyaman meliput kegiatan usahanya. Dari kernet labi-labi di jalanan Banda Aceh, Ismail kini memimpin bisnis transportasi multimoda internasional.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: batakpost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top