ACEH BARAT DAYA — Lokakarya yang mengangkat pengetahuan lokal sebagai basis mitigasi perubahan iklim itu diikuti Staf Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Pembangunan Setdakab Abdya Dewi Marlina SP MP, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, Kapolsek, serta sejumlah perwakilan komunitas masyarakat. Penyelenggara menyebut kegiatan ini sebagai ruang identifikasi tantangan sekaligus penghimpunan aspirasi warga.
Mengapa Aceh Disebut Rentan Cuaca Ekstrem
Kepala Divisi Kebijakan Publik sekaligus Manajer Program GeRAK Aceh, Fernan, menyatakan Aceh menghadapi berbagai risiko akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Bencana di sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025 disebutnya menjadi pengingat bahwa perubahan pola cuaca dapat berdampak pada kehidupan masyarakat, lingkungan, dan sumber penghidupan.
Fernan berharap lokakarya memperkuat pengetahuan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. Forum ini juga diarahkan untuk menggali praktik lokal dan menghimpun rekomendasi yang bisa disampaikan ke pengambil kebijakan di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Pupuk, Debit Air, dan Penyakit Padi Jadi Keluhan Utama
Keuchik Suak Nibong, Adami US SP, menjelaskan kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko perubahan iklim sekaligus menjadi wadah pertukaran pengalaman. Menurut dia, sektor pertanian menjadi persoalan yang paling banyak dikeluhkan warga gampong.
“Kondisi sawah harus menjadi perhatian utama kami, baik terkait pupuk, debit air yang masih kurang, maupun penyakit yang sering menyerang padi petani. Semoga dengan adanya kegiatan ini, aspirasi masyarakat dapat tertampung,” ujar Adami.
Peran Warga Sekitar Hutan dan Pesisir
Kepala SPTN Wilayah I Blangpidie, BBTNGL, Yosia Ginting S.Hut MSi, bertindak sebagai pemateri. Ia menyampaikan lokakarya diinisiasi GeRAK Aceh bersama Pemdes Suak Nibong untuk mendorong masyarakat dan komunitas menjaga kelestarian lingkungan.
Masyarakat Abdya, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan pesisir, dinilai punya peran penting dalam menjaga lingkungan. Keterlibatan komunitas dianggap perlu untuk memperluas pemahaman dan mendorong partisipasi warga menghadapi dampak perubahan iklim.
Yosia menyebut keterbatasan dalam mengawasi dan menjaga kelestarian alam menjadi salah satu tantangan. Pelibatan masyarakat diharapkan memperkuat perlindungan lingkungan, termasuk lewat penyebaran informasi soal pengelolaan sampah dan perubahan iklim.
“Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat atau komunitas yang mengikuti lokakarya dapat membantu menyampaikan informasi tentang pemanfaatan sampah dan perubahan iklim kepada masyarakat lainnya,” kata Yosia.
Rekomendasi Warga Bakal Dibawa ke Pemkab Abdya
Penyelenggara berharap pengalaman dan kebutuhan masyarakat, khususnya soal pertanian dan kelestarian lingkungan, terhimpun sebagai bahan rekomendasi bagi pemangku kebijakan di tingkat daerah. Belum ada keterangan mengenai jadwal penyampaian rekomendasi tersebut ke Pemkab Abdya.