BANDA ACEH – Masyarakat di wilayah Serambi Mekkah kembali diingatkan pada pentingnya literasi mitigasi bencana setelah gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 5,7 mengguncang wilayah Aceh pada hari ini. Meskipun getaran terasa cukup signifikan di beberapa titik, Pemerintah Aceh melalui instansi terkait memastikan bahwa kondisi sosial dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan kondusif. Kejadian ini menjadi momentum penting bagi penguatan struktur ketahanan sosial masyarakat Aceh yang selama ini dikenal memiliki kearifan lokal tinggi dalam menghadapi fenomena alam.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut dengan kedalaman yang cukup dangkal, namun tidak berpotensi tsunami. Getaran yang dirasakan hingga ke Banda Aceh, Aceh Besar, hingga sebagian wilayah Sabang sempat mengejutkan warga yang tengah memulai aktivitas pagi. Kendati demikian, tidak terlihat kepanikan yang berlebihan di tengah publik. Hal ini menunjukkan bahwa program edukasi kebencanaan yang selama ini digalakkan oleh pemerintah dan lembaga swadaya di Aceh telah membuahkan hasil dalam membentuk mentalitas masyarakat yang tenang dan tanggap.
Juru bicara pemerintah daerah menyatakan bahwa koordinasi lintas sektoral langsung dilakukan sesaat setelah gempa terjadi. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) bersama unsur TNI dan Polri segera melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan keamanan fasilitas publik, mulai dari gedung perkantoran, pusat kesehatan, hingga infrastruktur pendidikan. Pemerintah menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan layanan publik tidak terganggu dan masyarakat merasa aman dalam melanjutkan kegiatan ekonomi mereka.
Dari sisi sosial, ketenangan warga Aceh dalam menghadapi gempa M 5,7 ini mencerminkan keberhasilan transformasi budaya sadar bencana. Di pasar-pasar tradisional dan pusat perbelanjaan di Banda Aceh, aktivitas jual beli tetap berlangsung normal beberapa jam setelah guncangan. Para pedagang dan pembeli tampak kembali berinteraksi seperti biasa, meskipun tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Kematangan sosial ini merupakan aset berharga bagi Aceh dalam menjaga stabilitas daerah di tengah kondisi geografis yang berada di jalur cincin api.
Selain aspek sosial dan ekonomi, sektor pendidikan juga menjadi perhatian. Beberapa sekolah yang sempat mengevakuasi siswanya ke titik kumpul sesuai standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan, dilaporkan kembali melanjutkan proses belajar mengajar setelah dipastikan bangunan sekolah dalam kondisi aman. Guru-guru di Aceh kini sudah terlatih untuk memberikan pendampingan psikologis singkat kepada siswa agar tidak trauma, sebuah langkah preventif yang menjadi bagian dari kurikulum sekolah aman bencana di provinsi ini.
Pemerintah Aceh juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi hoaks yang sering beredar di media sosial pasca-gempa. Masyarakat diminta untuk tetap memantau kanal informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah. Kesiapsiagaan ini bukan hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang bagaimana membangun ekosistem sosial yang cerdas informasi dan saling menguatkan antar sesama warga.
Sebagai penutup, kejadian gempa M 5,7 ini menjadi pengingat kolektif bahwa hidup berdampingan dengan potensi bencana memerlukan konsistensi dalam menjaga budaya siaga. Dengan koordinasi pemerintah yang solid dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga ketertiban sosial, Aceh terus membuktikan diri sebagai daerah yang tangguh dan mampu bangkit dengan cepat dari setiap tantangan alam yang ada.