Harga Cabai di Banda Aceh Meroket 50 Persen, Pasokan dari Luar Daerah Tersendat dan Biaya Angkut Membengkak

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Senin, 25 Mei 2026 | 22:23:01 WIB
Harga cabai di Banda Aceh melonjak 50 persen akibat pasokan terhambat dan biaya angkut meningkat.

BANDA ACEH — Lonjakan harga ini dipicu oleh tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah yang diperparah dengan membengkaknya biaya logistik. Data dari Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kota Banda Aceh mencatat kenaikan terjadi pada hampir seluruh jenis cabai.

Kepala Diskopukmdag Kota Banda Aceh, Bukhari, mengatakan bahwa selama ini kota tersebut masih sangat bergantung pada pasokan hortikultura dari Aceh Tengah dan Sumatera Utara. Ketika kebutuhan meningkat sementara pasokan harus didatangkan, harga di pasar ikut tertekan naik.

“Kita masih bergantung pada petani luar Banda Aceh. Ketika kebutuhan meningkat sementara pasokan harus didatangkan dari daerah lain, harga di pasar ikut naik,” kata Bukhari, Senin (25/5/2026).

Biaya Angkut dan Antrean SPBU Ikut Andil

Menurut Bukhari, faktor distribusi menjadi beban tambahan. Kenaikan harga bahan bakar dan antrean panjang kendaraan distribusi di SPBU turut mendongkrak biaya operasional truk pengangkut.

“Truk pengangkut barang juga terdampak oleh kenaikan biaya operasional. Kondisi ini berpengaruh terhadap harga jual di pasar,” ujarnya.

Harga di Pasar Tembus Rp50 Ribu, Bukan karena Meugang

Dampaknya langsung terasa di tingkat pedagang dan konsumen. Di Pasar Al Mahira, harga cabai merah bahkan menyentuh Rp50 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang berkisar Rp35 ribu per kilogram.

Pedagang cabai di Pasar Al Mahirah, Bulqaini, membantah kenaikan ini terkait tradisi meugang. Ia menegaskan lonjakan sudah berlangsung sekitar dua minggu terakhir akibat berkurangnya pasokan dari distributor. “Bukan karena meugang. Memang sudah dua minggu ini harga cabai naik karena barang yang masuk berkurang,” katanya.

Pola Belanja Warga Mulai Berubah

Kondisi ini mulai mengubah kebiasaan belanja masyarakat. Sejumlah pembeli terpaksa mengurangi jumlah pembelian cabai untuk menyesuaikan pengeluaran rumah tangga di tengah kenaikan harga bahan pangan lainnya.

Meski aktivitas di pasar tradisional masih ramai menjelang meugang, para pedagang berharap pasokan segera pulih. Tanpa penguatan produksi lokal dan perbaikan rantai distribusi, fluktuasi harga komoditas strategis seperti cabai diperkirakan akan terus berulang setiap kali pasokan terganggu.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: noa.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top