JAKARTA — Sebanyak 19 dari 37 peternak lokal yang terlibat dalam program kurban BSI tahun ini merupakan pelaku UMKM dan desa binaan yang tersebar di Aceh, Sumatera Selatan, Jabodetabek, Jawa, Sulawesi Selatan, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara. Langkah ini memastikan ekonomi kerakyatan tumbuh dari hulu ke hilir.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo merincikan, dari total 24.053 hewan kurban, sekitar 1.000 ekor merupakan sapi dan 23 ribu ekor lainnya adalah kambing. Seluruh hewan telah mengantongi sertifikat kelulusan uji klinis dari Rumah Potong Hewan (RPH) dan Dinas Peternakan setempat.
Daging kurban didistribusikan ke lebih dari 600 ribu kantong yang dialokasikan bagi masyarakat dhuafa, wilayah terdampak bencana, serta pesantren. BSI memastikan distribusi menjangkau daerah 3T yang selama ini sulit diakses.
“Alhamdulillah tahun ini jumlah nominal kurban yang disalurkan sebesar Rp67,8 miliar,” ujar Anggoro dalam kegiatan simbolis penyaluran di Jakarta, Selasa. Pihaknya juga berkomitmen pada distribusi ramah lingkungan dengan menggunakan besek bambu sebagai wadah daging kurban.
“Besek ini juga sangat baik untuk menjadi tempat daging kurban karena bisa lebih awet karena tidak tertutup rapat,” kata Anggoro. Inisiatif ini merupakan bagian dari tanggung jawab keberlanjutan (sustainability) perusahaan.
Program kurban BSI tahun ini dirancang untuk memberikan dampak ekonomi berantai (multiplier effect) bagi sektor UMKM. Dengan melibatkan peternak binaan, BSI memberikan kepastian pasar dan menjaga kualitas stok hewan dari hulu ke hilir. Hewan kurban yang disalurkan dipastikan dalam kondisi sehat dan prima.
Ya, jumlah hewan kurban tahun ini naik 57 persen dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebanyak 15.272 ekor. Kenaikan ini menunjukkan peningkatan partisipasi nasabah dan masyarakat dalam program kurban BSI.