ACEH TIMUR — Penurunan angka kemiskinan sebesar dua persen dalam setahun terakhir menjadi capaian paling konkret yang dirasakan warga di Kabupaten Aceh Timur. Data yang dirilis oleh Dinas Sosial setempat mencatat, jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 3.000 jiwa selama periode 2024 hingga awal 2025.
Pemkab Aceh Timur menggenjot dua sektor utama: padat karya tunai desa dan perluasan penerima bantuan pangan non-tunai. Program padat karya di 30 desa prioritas menyerap lebih dari 2.500 tenaga kerja lokal. Warga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap kini mendapat upah harian dari proyek infrastruktur desa seperti rabat beton dan irigasi tersier.
“Kami fokus pada desa-desa yang angka kemiskinannya di atas 20 persen. Setiap desa mendapat alokasi anggaran padat karya minimal Rp 200 juta,” ujar Kepala Dinas Sosial Aceh Timur melalui keterangan tertulis.
Kenaikan harga bahan pokok sempat dikhawatirkan akan menghambat laju penurunan kemiskinan. Namun, intervensi langsung melalui bansos tunai dan subsidi ongkos angkut sembako di 12 kecamatan terbukti menahan daya beli warga. Data BPS Aceh Timur mencatat, indeks kedalaman kemiskinan juga menurun, yang berarti jurang kesejahteraan antara warga miskin dan tidak miskin mulai menyempit.
Mayoritas warga yang keluar dari garis miskin berasal dari kelompok petani kecil dan buruh tani di Kecamatan Peureulak, Rantau Selamat, dan Idi Rayeuk. Mereka memperoleh akses ke program bantuan benih gratis dan pupuk bersubsidi yang lebih tepat sasaran. Selain itu, program rumah layak huni yang direnovasi Pemkab Aceh Timur juga menyentuh 400 kepala keluarga di kawasan pesisir.
Pemkab Aceh Timur menargetkan angka kemiskinan bisa turun lagi menjadi 14 persen pada akhir 2026. Strateginya akan diperluas ke sektor pendidikan dan kesehatan, termasuk memperbanyak beasiswa bagi anak dari keluarga miskin dan layanan posyandu keliling di desa terpencil. Langkah ini dinilai krusial agar penurunan kemiskinan tidak hanya bersifat musiman, tetapi berkelanjutan.