BANDA ACEH — Kompetisi seni mahasiswa tingkat provinsi itu mempertandingkan 15 cabang perlombaan. Ketua Panitia Peksimida 2026, Wira Dharma, menyatakan ajang ini dirancang untuk menjaring bibit unggul seniman muda dari kampus-kampus di Aceh.
“Kami berharap seluruh peserta dapat menunjukkan kemampuan terbaik dengan tetap menjunjung tinggi nilai sportivitas dan persaudaraan,” ujar Wira yang juga menjabat Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Senin.
Seni Versus Kecerdasan Buatan
Ketua Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Aceh, Rina Suryani Oktari, menekankan pentingnya seni di tengah gempuran teknologi. Menurutnya, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari teknologi, tetapi juga kekuatan seni dan budaya.
“Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, yaitu karakter, kreativitas, dan ekspresi seni,” kata Rina yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK.
Ia menambahkan, Peksimida bukan sekadar menentukan juara. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang belajar, berekspresi, dan menyuarakan seni bagi mahasiswa dari seluruh Aceh.
Persahabatan di Atas Persaingan
Rina mengajak seluruh kontingen untuk menjadikan kompetisi sebagai sarana membangun karakter dan mempererat persaudaraan. “Menang yang sesungguhnya adalah tidak pernah menyerah. Bersaing boleh, tetapi persahabatan harus tetap di hati,” tuturnya.
Ia mengapresiasi kerja keras panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. Rina berharap dari panggung Peksimida lahir seniman-seniman muda kreatif yang mampu mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional.
Persiapan Menuju Peksiminas
Para peserta terbaik hasil seleksi di Peksimida akan dipersiapkan secara khusus untuk mewakili Aceh pada ajang Peksiminas yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Pembukaan acara turut dihadiri pimpinan perguruan tinggi, dekan, dosen pendamping, serta kontingen mahasiswa dari berbagai kampus di Aceh.