TAKENGON — Angka prevalensi ketidakcukupan pangan di Kabupaten Aceh Tengah turun 1,1 persen dalam setahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi penduduk yang kekurangan asupan energi di daerah itu tercatat 7,8 persen pada 2025, turun dari posisi 8,9 persen pada tahun sebelumnya.
Angka ini setara dengan rata-rata nasional yang berada di level 7,89 persen. Artinya, kondisi ketahanan pangan di Aceh Tengah sedikit lebih baik dibandingkan capaian Indonesia secara keseluruhan.
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), indikator ini disebut Prevalence of Undernourishment (PoU). Indikator tersebut menggambarkan kondisi seseorang yang secara reguler mengonsumsi jumlah makanan yang tidak cukup untuk memenuhi energi yang dibutuhkan untuk hidup normal, aktif, dan sehat.
Dengan angka 7,8 persen, berarti kurang dari delapan dari setiap seratus penduduk Aceh Tengah yang kebutuhan energinya tidak tercukupi dari konsumsi pangan harian. Indikator ini juga menjadi alat untuk melihat tingkat kerawanan pangan dan gizi di suatu wilayah.
Dibandingkan dengan 22 kabupaten dan kota lain di Provinsi Aceh, PoU Aceh Tengah menempati urutan ke-11. Wilayah dengan prevalensi terendah atau kondisi terbaik adalah Kota Subulussalam sebesar 6,01 persen, disusul Kabupaten Bener Meriah 6,27 persen, dan Kota Banda Aceh 6,84 persen.
Sementara itu, daerah dengan angka ketidakcukupan pangan tertinggi adalah Kabupaten Aceh Tamiang yang mencapai 11,62 persen. Berikut daftar 10 kabupaten/kota dengan PoU terendah di Aceh pada 2025:
Meski turun dalam setahun terakhir, data BPS menunjukkan bahwa dalam periode lima tahun terakhir, prevalensi ketidakcukupan pangan di Aceh Tengah justru naik 1,33 persen. Capaian 2025 ini masih perlu dikawal agar tren penurunan berkelanjutan.
Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat program ketahanan pangan, terutama di daerah sentra produksi kopi Gayo yang menjadi andalan ekonomi warga setempat.