ACEH BESAR — Mereka tidak hanya menanam. Sebelum turun ke lumpur pesisir, peserta mendapat edukasi soal fungsi ekosistem mangrove dalam mitigasi perubahan iklim dan pencegahan abrasi. Kegiatan ini melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Aceh, serta Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Aceh.
Ketua Umum PW PII Aceh, Mohd Rendi Febriansyah, mengatakan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh belakangan ini harus menjadi pengingat. Menurutnya, kondisi lingkungan di masa depan sangat ditentukan oleh perilaku generasi muda hari ini.
“Pasca banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, pelajar dan mahasiswa harus semakin peduli terhadap isu lingkungan,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Syafruddin, perwakilan DLHK Aceh, menjelaskan bahwa mangrove memiliki fungsi vital. Selain mencegah abrasi dan menjadi habitat biota laut, tanaman ini mampu menyerap emisi karbon secara signifikan.
Ia menegaskan upaya penghijauan dan reboisasi pesisir perlu terus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Kawasan pesisir Mesjid Raya sendiri selama ini rawan abrasi.
Ketua Panitia, Muhammad Fazil, berharap aksi nyata ini mendorong lebih banyak pelajar dan mahasiswa terlibat langsung, bukan sekadar paham teori. “Kami berharap pelajar dan mahasiswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga alam secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian lingkungan seperti penanaman mangrove,” katanya.
Umar Banta Ali dari KB PII Aceh menambahkan, kalangan muda perlu lebih banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan ditutup dengan penanaman mangrove secara bersama-sama di pesisir Mesjid Raya.