KMP Aceh Hebat 2 Kembali Layani Rute Banda Aceh-Sabang, 184.512 Penumpang Tercatat Sepanjang Januari-Juni 2026

Penulis: Teuku Fahreza  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:02:01 WIB
Kapal KMP Aceh Hebat 2 kembali melayani rute Banda Aceh-Sabang setelah menjalani perbaikan dan pemeriksaan keselamatan.

BANDA ACEH — Pelayaran perdana KMP Aceh Hebat 2 dilepas dari Pelabuhan Ulee Lheue pada pukul 08.00 WIB. Sebelum kembali mengangkut penumpang, kapal menjalani perbaikan dan serangkaian pemeriksaan yang melibatkan BKI serta Marine Inspector/KSOP, termasuk Special Engine Survey dan Additional ISM Code Audit.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh, Mochamad Haryanto, menyatakan seluruh persyaratan teknis dan keselamatan harus terpenuhi lebih dulu sebelum kapal diizinkan melayani kembali. Persetujuan dari pihak berwenang menjadi syarat terakhir sebelum kapal kembali ke lintasan.

Insiden Ruang Mesin Setengah Jam Sebelum Kapal Berlayar

Gangguan terjadi di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 pada Jumat, 12 Juni 2026. Kapal dinyatakan tidak dapat melanjutkan pelayanan, sehingga ASDP harus menyusun ulang pola operasi lintasan Ulee Lheue-Balohan dalam waktu cepat.

Lintasan itu bukan jalur sepi. Sepanjang Januari hingga 15 Juni 2026, tercatat 1.258 trip dengan total 184.512 penumpang dan 87.777 unit kendaraan. Setiap perjalanan mengangkut pekerja, kendaraan pengangkut kebutuhan, dan aktivitas ekonomi yang bergerak dari satu pulau ke pulau lain.

Haryanto menyebut prioritas pertama saat insiden terjadi adalah keselamatan penumpang dan awak kapal. "Setelah kapal dinyatakan tidak dapat melanjutkan pelayanan, kami melakukan koordinasi cepat dengan pihak kapal, KSOP, pengelola pelabuhan, serta armada yang masih tersedia," ujarnya kepada Nukilan.id pada Rabu (30/9/2026).

KMP BRR dan KMP Papuyu Ambil Alih Sementara

ASDP mengalihkan layanan ke armada yang masih beroperasi. Lintasan Ulee Lheue-Balohan dilayani KMP BRR, sementara KMP Papuyu melayani rute Ulee Lheue-Lamteung dan Ulee Lheue-Serapung.

Penyesuaian juga menyentuh sisi yang langsung dirasakan pengguna jasa. Perusahaan mengatur antrean dan menyampaikan perubahan jadwal agar penumpang dapat menyesuaikan perjalanan. Berkurangnya armada tetap membawa konsekuensi pada frekuensi perjalanan dan kapasitas pelayanan.

Haryanto tidak menutupi kondisi tersebut. "Prinsip kami bukan mengejar jumlah perjalanan semata, tetapi menjaga agar pelayanan tetap berjalan dengan mengutamakan aspek keselamatan, kapasitas kapal sesuai sertifikat keselamatan, dan ketentuan dari Syahbandar," katanya.

Bagi Pekerja Rutin, Jadwal Kapal Berarti Waktu Bersama Keluarga

Amal Izzaturridha merasakan langsung dampak perubahan jadwal. Sales marketing perusahaan kebutuhan rumah tangga itu bekerja di Sabang dari Senin hingga Jumat, lalu kembali ke Banda Aceh pada akhir pekan untuk bertemu istri dan anaknya.

"Iya, cukup terdampak. Karena pekerjaan saya memang mengharuskan berada di Sabang dari Senin sampai Jumat. Jadi, ketika jumlah kapal berkurang dan jadwal berubah, saya harus menyesuaikan lagi perjalanan. Kadang harus menunggu jadwal berikutnya atau mengatur ulang waktu keberangkatan," kata Amal saat diwawancarai.

Menunggu satu jadwal kapal mungkin hanya berarti tambahan beberapa jam bagi sebagian orang. Bagi pekerja yang berpindah pulau secara rutin, waktu tunggu itu berarti agenda kerja yang bergeser dan waktu bersama keluarga yang berkurang.

Kapal tidak hanya membawa manusia dan kendaraan. Jalur penyeberangan Ulee Lheue-Balohan menghubungkan dua ruang kehidupan yang dipisahkan laut, sekaligus menopang mobilitas warga dan aktivitas ekonomi Banda Aceh dan Sabang.

Reporter: Teuku Fahreza
Sumber: nukilan.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top