Film Inong Peudame Angkat Kisah 12 Perempuan Aceh Rawat Perdamaian Pascakonflik

Penulis: Zulkifli Arief  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 07:31:30 WIB
Pemutaran film dokumenter Inong Peudame: Together, We Were Brave di Orion Hall, Aceh Besar, Rabu (30/9/2026).

ACEH BESAR — Dua puluh satu tahun setelah MoU Helsinki diteken, kisah perempuan yang memperjuangkan perdamaian Aceh kembali diangkat lewat layar lebar. Film dokumenter Inong Peudame: Together, We Were Brave memuat rekaman pengalaman 12 tokoh, mulai dari aktivis, penyintas, tokoh masyarakat, hingga kelompok perempuan akar rumput.

Pemutaran berlangsung di Orion Hall, Aceh Besar, Rabu (30/9/2026). Acara itu dirangkai dengan dialog kebijakan bertema "Kepemimpinan Perempuan untuk Perdamaian, Aksi Kemanusiaan, dan Aceh yang Tangguh".

Siapa Saja yang Terlibat dalam Film Ini

Film berdurasi 26 menit tersebut diproduksi UN Women Indonesia bersama AMAN Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Kisah para tokoh memperlihatkan peran perempuan sejak masa konflik sampai pascakonflik.

Mereka terlibat membuka ruang dialog, menyuarakan perdamaian, dan memperkuat ketangguhan warga di tingkat komunitas. Pendiri sekaligus Pemimpin Pesantren Diniyah Dayah Darussalam, Umi Hanisah, menjadi salah satu kontributor film.

"Tokoh perempuan terus menyuarakan perdamaian, membuka dialog di berbagai ruang dan menuntut ruang aman agar perempuan bisa beraktivitas dengan damai dan tanpa takut," kata Umi Hanisah.

Menurutnya, perdamaian yang sudah dirasakan warga Aceh bukan sekadar kenangan. Nilai itu perlu dirawat dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Perempuan Bukan Hanya Korban Konflik

Manajer IDEA AMAN Indonesia, Ghufron, menilai pengalaman perempuan Aceh mesti ditempatkan kembali sebagai bagian penting dari narasi perdamaian. Perempuan, katanya, bukan cuma kelompok yang terdampak konflik.

"Perempuan bukan hanya korban, tetapi juga aktor perdamaian dan keamanan yang sejak dari komunitas ikut merawat perdamaian dan mendorong perubahan," ungkap Ghufron.

Ia berharap pembelajaran dari Aceh bisa jadi rujukan daerah lain dalam melihat kontribusi perempuan pada proses perdamaian.

Jejak Kontribusi yang Tak Tercatat Sejarah

Programme Manager for Governance, Peace and Resilience, Yulies Puspitaningtyas, menyebut film ini bukan sekadar ruang dokumentasi. Banyak perempuan yang kontribusinya tidak tercatat dalam narasi sejarah utama, meski berperan membangun perdamaian dari tingkat komunitas.

"Kami berharap film ini juga bermanfaat untuk membuka lebih banyak diskusi, pembelajaran dan membuka banyak kesempatan baru untuk kerja-kerja pemberdayaan dan kesetaraan bagi semua," ujar Yulies.

Dialog Kebijakan dan Kaitan dengan RAN P3AKS

Usai pemutaran, dialog kebijakan membahas keterkaitan pengalaman perempuan dengan agenda kemanusiaan dan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Forum dimoderatori Ketua Presidium Balai Syura, Dr. Rasyidah.

Pembahasan menyentuh implementasi dan pelokalan Rencana Aksi Nasional Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial (RAN P3AKS) 2026–2029 yang masih dalam proses finalisasi. Agenda Perempuan, Perdamaian dan Keamanan (Women, Peace and Security/WPS) serta program KITA TANGGUH yang diinisiasi Kemenko PMK juga masuk bahasan.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Dr. Lilik Kurniawan, menilai pengalaman perempuan Aceh bisa menjadi pembelajaran untuk membangun ketangguhan masyarakat yang inklusif.

"Pembelajaran dari perempuan Aceh dapat memberikan kontribusi penting bagi upaya tersebut, khususnya dalam memperkuat kesiapsiagaan berbasis masyarakat dan sistem perlindungan," ujar Lilik.

Menurut Lilik, penguatan ketangguhan warga butuh data terpilah berdasarkan jenis kelamin, usia, dan disabilitas. Data itu diperlukan agar kebutuhan tiap kelompok diperhitungkan dalam perencanaan kesiapsiagaan, penanganan bencana, hingga proses pemulihan.

Pemutaran Berjejaring hingga 19 Oktober 2026

Dialog juga menyoroti kaitan agenda WPS dengan pengurangan risiko bencana. Salah satu pembelajarannya berasal dari pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra pada akhir November 2025.

Kegiatan itu diikuti lintas pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat sipil, kelompok orang muda, pakar, hingga mitra pembangunan. Setelah peluncuran di Aceh Besar, film Inong Peudame akan diperluas lewat pemutaran berjejaring oleh kelompok perempuan, jejaring masyarakat sipil, dan para kontributor film.

Pemutaran komunitas dijadwalkan berlangsung pada 1–19 Oktober 2026. Kegiatan itu menjadi ruang memperluas jangkauan film sekaligus membuka percakapan di tingkat komunitas soal pengalaman perempuan dalam perjalanan perdamaian Aceh.

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: waspadaaceh.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top