KUTACANE — Ribuan warga dan aparatur sipil negara memadati Lapangan Pemuda Aceh Tenggara pada Sabtu pagi, mengikuti Apel Siaga Bencana yang dipimpin langsung Bupati H. M. Salim Fakhry. Kehadiran Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB serta Wakil Ketua II DPR Aceh menandai pentingnya acara ini bagi daerah yang berada di kawasan rawan bencana.
Ancaman Bencana yang Mengintai Sepanjang Tahun
Bupati Salim Fakhry menyebut bahwa kondisi geografis Aceh Tenggara bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, tanahnya subur dan kaya sumber daya alam. Namun di sisi lain, topografi perbukitan dan lembah membuat daerah ini sangat rentan terhadap banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, serta kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau.
“Upaya penanggulangan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda,” ujar Bupati dalam sambutannya.
Generasi Muda Jadi Garda Terdepan Mitigasi
Pemuda menjadi sorotan utama dalam apel ini. Bupati menilai anak muda memiliki semangat, keberanian, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi — modal penting untuk menjadi relawan tanggap bencana. Ia mendorong mereka untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelopor edukasi mitigasi di lingkungan masing-masing.
“Kemampuan beradaptasi yang dimiliki pemuda merupakan modal penting dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana,” ungkapnya.
Pemerintah daerah berharap lewat apel ini terbentuk kelembagaan yang terorganisir, disiplin, dan memiliki kapasitas memadai. Mulai dari edukasi mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga proses pemulihan pascabencana.
Logistik Rp 3 Miliar dan Teknologi untuk Edukasi
Puncak acara ditandai dengan penyerahan buffer stock logistik penanggulangan bencana senilai lebih dari Rp 3 miliar dari BNPB. Bantuan ini akan ditempatkan di titik-titik strategis untuk mempercepat distribusi saat darurat.
Bupati juga mengajak masyarakat memanfaatkan teknologi secara positif. Informasi kebencanaan yang benar harus disebarluaskan, bukan hoaks yang justru memicu kepanikan. “Kesiapsiagaan bukan hanya dilakukan saat ancaman bencana datang, tetapi harus menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Rangkaian acara diisi orasi kebencanaan oleh Deputi BNPB dan penampilan Tari Persembahan Siaga Bencana, sebuah simbol bahwa mitigasi bisa dikemas secara kreatif dan membumi.