ACEH — Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menyebut cara mendidik dan mengasuh anak hari ini akan menentukan masa depan Indonesia. Anak usia 0–17 tahun mencapai 30,1 persen dari populasi pada 2025, sehingga pola asuh yang utuh jadi kunci menyongsong Indonesia 2045.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menegaskan hal itu saat menjadi pembicara utama Seminar Nasional dan Temu Alumni Program Magister Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat 25 September 2026. Menurutnya, pendidikan anak tidak cukup mengejar nilai akademik saja.
Karakter, kemampuan sosial-emosional, nilai agama, dan budi pekerti harus dibangun sejak dini. Arifah menyebut anak memegang posisi strategis dalam menyongsong Indonesia 2045.
Berapa Banyak Anak Indonesia yang Perlu Didampingi?
Data BPS yang disampaikan Arifah menunjukkan anak usia 0–17 tahun mencapai sekitar 30,1 persen dari total populasi Indonesia pada 2025. Artinya, hampir sepertiga penduduk adalah anak-anak yang tumbuh kembangnya perlu diamankan.
"Bagaimana Indonesia ke depan tergantung bagaimana kita mendidik dan mengasuh anak-anak kita pada hari ini," ujarnya.
Angka itu menjelaskan mengapa pendidikan dan perlindungan anak harus berjalan beriringan. Keluarga, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi diminta terlibat, bukan hanya satu pihak.
Apa Itu Satuan Pendidikan Ramah Anak?
Arifah mendorong penguatan satuan pendidikan ramah anak. Konsep ini tidak sebatas menyediakan fasilitas aman, tetapi juga memastikan hak anak terpenuhi.
Di dalamnya termasuk perlindungan khusus dan mekanisme pengaduan yang bisa diakses anak ketika menghadapi persoalan. Guru pun tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing yang memberi rasa aman.
Peran Perguruan Tinggi dalam Pola Asuh Anak
Sebagai alumni UIN Sunan Kalijaga, Arifah menyoroti kontribusi kampus dalam pendidikan anak usia dini. Ia menyebut banyak orang tua yang masih kesulitan menerapkan pola asuh Islami.
"UIN bisa melakukan beberapa hal, parenting yang Islami, banyak orang tua yang kesulitan. Riset kurikulum yang terintegrasi, mencetak pendidik yang profesional, model-model PAUD Islam yang holistik," katanya.
Riset kurikulum terintegrasi dan pencetakan pendidik profesional dinilai bisa menjawab kebutuhan itu. Model PAUD Islam holistik juga diharapkan jadi rujukan bagi lembaga pendidikan lain.
Yang Bisa Ibu Lakukan di Rumah
Pesan Menteri PPPA sejalan dengan keseharian ibu di rumah. Anak butuh lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan mendukung tumbuh kembangnya.
Mendampingi anak belajar bersosialisasi, mengelola emosi, dan membiasakan nilai baik sama pentingnya dengan mengajarkan calistung. Pendidikan anak usia dini sebaiknya tidak dipersempit pada capaian akademik semata.
Keterlibatan orang tua di sekolah, komunikasi dengan guru, dan kepekaan terhadap perubahan perilaku anak menjadi langkah awal yang bisa dilakukan sekarang. Masa depan Indonesia 2045 dimulai dari cara ibu dan keluarga mendidik anak hari ini.