IniAceh.com - Pukul 16.00 WITA, 11 Desember 2025, Edi Julianto, 53 tahun, menerima kabar tugas menjadi bagian dari tim Bantuan Kendali Operasi (BKO) PLN Nusa Daya di Banda Aceh. Dan itu mengubah harinya.
Tanpa banyak waktu untuk bersiap, ia diminta berangkat karena wilayah itu baru saja dilanda bencana yang melumpuhkan sistem kelistrikan. Lantas, pemulihan pembangkit listrik harus dilakukan secepat mungkin.
Edi adalah tim pemeliharaan dari Pontianak, di bawah PLN Nusa Daya. Aceh bukan wilayah kerjanya. Jaraknya jauh. Medannya tak mudah. Namun bagi Edi, tugas adalah panggilan. Ia tak banyak bertanya. Ia tahu, cahaya harus kembali dinyalakan.
Pagi itu, 12 Desenber 2025 ia meninggalkan rumah. Tanpa janji kapan bisa kembali. Tanpa kepastian apa yang akan dihadapi di lapangan. Yang ia tahu, Aceh membutuhkan tenaga. Dan ia harus berangkat.
Aceh menjadi penugasan di pembangkit terlama Edi di luar Pontianak. Hampir dua pekan, ia berada jauh dari rumah. Hari-harinya diisi dengan kerja tanpa jeda. Memeriksa jaringan yang rusak. Memulihkan sistem kelistrikan. Berpindah dari satu titik ke titik pembangkit lain, mengikuti kebutuhan pemulihan listrik.
Di lapangan, bencana menyisakan banyak keterbatasan. Akses kian sulit karena banyak jembatan putus. Cuaca tak menentu, hujan tak berhenti. Listrik bukan satu-satunya yang hilang. Harapan masyarakat pun sempat padam. Di situlah Edi dan rekan-rekannya bekerja. Dalam diam. Tanpa sorotan.
Di saat banyak orang menanti libur akhir tahun, Edi justru menghabiskan malam di lokasi kerja. Di bawah lampu darurat. Di antara kabel, tiang, dan suara genset. Baginya, libur bisa menunggu. Listrik tak bisa.
Di sela tugas berat itu, Edi selalu menyempatkan diri menghubungi rumah. Telepon singkat. Pesan sederhana. Sekadar memastikan keluarga baik-baik saja. Terutama putri bungsunya. Usianya baru sembilan tahun.
Suara perempuan bungsunya menjadi penguat langkah. Sekaligus sumber rindu yang tak bisa dihindari. Setiap kali panggilan berakhir, Edi kembali fokus pada pekerjaannya. Menyimpan perasaan. Menguatkan diri.
“Sedih rasanya,” ujar Edi, mengenang momen itu. Kalimatnya pendek. Nadanya datar. Namun maknanya dalam. “Tapi tugas untuk menyalakan Aceh lebih penting,” katanya lirih.
Bagi Edi, listrik bukan sekadar terang. “Listrik itu kehidupan. Dengan listrik, anak-anak bisa belajar kembali. Rumah sakit bisa beroperasi normal. Usaha kecil bisa berjalan. Aktivitas masyarakat bisa perlahan pulih,” katanya.
Ia tahu, setiap kabel yang tersambung adalah harapan. Setiap lampu yang menyala adalah tanda bahwa kehidupan kembali bergerak. Kesadaran itu membuatnya bertahan, meski rindu terus mengetuk.
Di lapangan, Edi berdiri di garis depan pemulihan. Tubuhnya lelah. Pikirannya penuh. Namun ia terus bekerja. Karena ada banyak rumah yang menunggu terang. Banyak keluarga yang berharap.
Edi tidak sendiri. Bersama ribuan petugas PLN lainnya, ia ikut menyalakan Aceh yang sempat gelap.
Tak lama setelah Edi dan kawan-kawan datang, mesin-mesin diesel di PLTD Nusa Daya Krueng Raya mulai berderu pada Selasa, 23 Desember 2025. Suaranya menandai lebih dari sekadar pembangkit yang beroperasi—ia menjadi simbol kembalinya harapan bagi masyarakat Aceh pascabencana.
Dengan kapasitas 15 Megawatt (MW), pembangkit ini dioperasikan oleh PT PLN Nusa Daya, anak perusahaan PT PLN (Persero), untuk memperkuat pasokan listrik di wilayah terdampak. Momentum pengoperasiannya pun krusial, menjelang Natal dan Tahun Baru, serta sebagai antisipasi keandalan sistem menuju Bulan Ramadan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari gerak cepat PLN Nusa Daya dalam memulihkan sistem kelistrikan Aceh. Dalam kondisi darurat, kehadiran pembangkit bukan hanya soal menambah daya, tetapi memastikan roda kehidupan masyarakat kembali berputar—rumah kembali terang, aktivitas ekonomi berjalan, dan ruang publik hidup kembali.
Direktur Utama PLN Nusa Daya, Feby Joko Priharto, menyebut pengoperasian PLTD Krueng Raya sebagai wujud komitmen perusahaan untuk selalu hadir di saat krusial. “Dalam 14 hari, PLTU tersebut berhasil beroperasi kembali,” ujarnya.
Bahkan Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Holding, Rizal Calvary Marimbo menilai pengoperasian PLTD Krueng Raya sebagai salah satu yang tercepat sejak tahap perencanaan hingga mesin beroperasi.
“Ini menunjukkan kesiapan organisasi dan kekuatan eksekusi di lapangan,” katanya.
Kini, sistem kelistrikan Banda Aceh ditopang pasokan 32 MW, berasal dari PLTD Lueng Bata berkapasitas 7 MW serta backup daya PLN Nusa Daya sebesar 25 MW. Ke depan, penguatan akan dilanjutkan melalui pengoperasian PLTD Ulee Kareng berkapasitas 25 MW, sehingga total backup daya mencapai 57 MW.
Pada 25 Desember 2025, tugas itu akhirnya selesai. Edi pulang ke Pontianak. Membawa cerita yang tak semua orang dengar. Tentang kerja di tengah bencana. Tentang pengabdian yang tak selalu terlihat.
Ia pulang sebagai ayah. Sebagai suami. Dan sebagai pekerja listrik yang telah menunaikan tugasnya.
Di Aceh, lampu kembali menyala. Jalanan kembali hidup. Aktivitas perlahan normal. Di Pontianak, seorang anak kembali memeluk ayahnya dengan rindu yang terbayar.
Di antara dua kota itu, ada kisah tentang Edi Julianto. Tentang seseorang yang memilih pergi saat hatinya ingin tinggal. Tentang cahaya yang tak hanya menyala di rumah orang lain, tetapi juga di dalam dirinya.
Karena bagi Edi, tugas bukan sekadar pekerjaan. Tugas adalah pengabdian. Dan cahaya, harus tetap menyala. Menyala Acehku…