BANDA ACEH — Kepergian Bachtiar Aly meninggalkan jejak panjang di tiga ranah: akademisi, diplomat, dan politisi. Ia bukan sekadar putra Aceh yang sukses di Jakarta, melainkan tokoh yang pemikirannya kerap menjadi rujukan dalam diskusi komunikasi politik dan hubungan internasional, khususnya dinamika Timur Tengah.
Karier Cemerlang dari Kampus hingga Senayan
Bachtiar mengawali pengabdian sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI). Lulusan Universitas Padjadjaran yang meraih gelar doktor di Jerman ini kemudian dipercaya menjadi Dubes RI untuk Mesir periode 2002–2005, merangkap negara Jibuti dan Somalia. Ia juga pernah menjabat Penasihat Ahli Kapolri, menjembatani perspektif akademis dengan dunia penegakan hukum.
Tiga Periode di DPR, Dua dari NasDem
Di parlemen, Bachtiar duduk sebagai Anggota DPR RI pertama kali pada periode 1997–1999 dari Fraksi Karya Pembangunan (Golkar). Namanya kembali dipercaya publik untuk dua periode berturut-turut, 2014–2019 dan 2019–2024, mewakili Daerah Pemilihan Aceh I dari Partai NasDem. Menjelang akhir hayat, ia bergabung dan berkiprah di jajaran Partai Hanura.
Pemikir Produktif yang Tajam Membaca Timur Tengah
Sebelum sepenuhnya terjun ke politik praktis, Bachtiar dikenal sebagai narasumber utama dalam diskusi publik. Isu komunikasi politik, hubungan internasional, dan dinamika kawasan Timur Tengah menjadi bidang yang ia kuasai. Kepergiannya dinilai sebagai kehilangan besar bagi masyarakat Aceh dan bangsa Indonesia — seorang pemikir dan penegak demokrasi yang menjunjung rasionalitas serta etika.
Hingga berita ini diturunkan, rencana pemakaman dan prosesi perpisahan masih diatur oleh keluarga besar almarhum.