Kepala Disdikbud Bireuen, Dr. Muslim, M.Si, saat membuka acara menekankan bahwa era digital menuntut guru untuk bertransformasi. Menurutnya, penguasaan teknologi seperti deep learning bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan pokok di ruang kelas.
"Guru tidak hanya dituntut mampu mengajar secara konvensional, tetapi juga harus memahami dan memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran," ujar Muslim dalam sambutannya.
Dalam pelatihan tersebut, deep learning dijelaskan sebagai cabang dari kecerdasan buatan yang memungkinkan komputer belajar dari data secara otomatis. Teknologi ini mampu mengenali pola, suara, gambar, hingga teks—mirip dengan cara kerja aplikasi penerjemah otomatis dan pengenalan wajah yang kita gunakan sehari-hari.
Ciri utamanya adalah penggunaan data dalam jumlah besar dan jaringan saraf tiruan berlapis. Semakin banyak data yang diproses, hasil pembelajarannya pun semakin akurat. Untuk konteks pendidikan, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk membuat materi ajar yang adaptif atau sistem penilaian otomatis.
Kepala Bidang Pembinaan PTK Disdikbud Bireuen, Abdul Majid, S.H., MM, melaporkan bahwa 150 peserta dibagi ke dalam lima kelas agar pelatihan lebih optimal. Setiap kelas didampingi oleh satu narasumber yang merupakan praktisi pendidikan dan teknologi dari berbagai sekolah di Bireuen.
Mereka adalah Leli Marlina, S.Pd., M.S.M (SMA Negeri 1 Bireuen), Muhammad, S.Pd.I (SMA Negeri 1 Samalanga), Julaidar, S.Pd., M.Pd (SMKN 1 Gandapura), M. Nazir, S.Pd., M.Pd (UPTD SD Negeri 21 Bireuen), dan Irvan, S.Pd (UPTD SD Negeri 1 Kuala).
Abdul Majid menambahkan bahwa pelatihan ini bukan sekadar pengenalan teori. Target utamanya adalah agar para guru mampu mengikuti perkembangan teknologi pendidikan dan menerapkannya secara bijak, kreatif, dan inovatif di sekolah masing-masing.
"Melalui kegiatan ini nantinya para guru diharapkan mampu mengikuti perkembangan teknologi pendidikan serta menerapkannya secara bijak, kreatif, dan inovatif dalam kegiatan belajar mengajar," tutup Abdul Majid.
Langkah Disdikbud Bireuen ini menjadi salah satu upaya konkret daerah dalam menjawab tantangan pendidikan di abad ke-21, di mana literasi digital dan kecerdasan buatan mulai menjadi bagian integral dari kurikulum.