BANDA ACEH — Ratusan manuskrip kuno koleksi warga di Pidie Jaya dan Aceh Utara yang terendam banjir tahun lalu kini tengah dipulihkan. Lima konservator dari PNRI Jakarta diterjunkan langsung untuk menangani proses restorasi yang berlangsung sejak 19 hingga 23 Mei 2026 di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.
Ketua Tim Konservasi PNRI, Imam Supangat, menjelaskan bahwa sebagian besar naskah mengalami kerusakan akibat kelembapan tinggi pascabanjir. Kondisi itu memicu pertumbuhan jamur dan membuat lembaran-lembaran kertas saling menempel.
“Manuskrip terlebih dahulu dikeringkan melalui ruang pengeringan atau chamber,” kata Imam. Setelah kering, bagian manuskrip yang berlubang akan ditambal, sementara naskah dengan kadar asam tinggi dinetralkan. Lembaran yang terlepas juga akan dijahit kembali sebelum dibuatkan sampul dan kotak penyimpanan baru.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman, meninjau langsung proses restorasi pada Kamis (21/5/2026). Ia menekankan pentingnya program preservasi berkelanjutan mengingat nilai sejarah dan peradaban yang terkandung dalam naskah-naskah Aceh.
“Kampus siap membangun database naskah kuno sebagai pusat kajian manuskrip Aceh dan Nusantara,” ujarnya. Menurut dia, langkah penyelamatan naskah di Aceh sebenarnya sudah dimulai sejak masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami Aceh. Saat itu, UIN Ar-Raniry bekerja sama dengan Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Universitas Leipzig Jerman, Pemerintah Aceh, serta Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh.
Setelah seluruh proses konservasi rampung, seluruh manuskrip akan diserahkan kembali kepada pemilik koleksi. Proses restorasi diawali dengan identifikasi tingkat kerusakan, kemudian pemilahan metode perbaikan, pendataan, hingga treatment konservasi. Langkah ini memastikan setiap naskah mendapatkan penanganan yang sesuai dengan jenis kerusakannya.