JAKARTA — Pertemuan tersebut tidak sekadar silaturahmi, melainkan penjajakan konkret kemitraan internasional yang diharapkan membawa dampak langsung ke masyarakat Aceh. Fadhlullah menyebut kolaborasi ini penting untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di provinsi ujung barat Indonesia itu.
Salah satu isu utama yang diangkat adalah kelestarian Taman Nasional Gunung Leuser, kawasan hutan hujan tropis yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia. Pemerintah Aceh ingin menggandeng UEA dalam upaya menjaga ekosistem di wilayah tersebut.
Di sektor energi, kedua pihak membahas peluang investasi yang bisa membuka lapangan kerja dan menghidupkan roda ekonomi warga. “Kami berharap kemitraan ini tidak hanya berhenti di atas kertas, tapi menghadirkan program pembangunan yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Fadhlullah dalam pertemuan itu.
Fadhlullah juga menjajaki kerja sama pengembangan pariwisata, khususnya di kawasan Sabang. Kota di ujung barat Aceh itu dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan, mulai dari wisata bahari, ekowisata, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.
Menurut Wagub, Aceh memiliki sumber daya alam dan energi terbarukan yang melimpah. Sinergi dengan mitra internasional seperti UEA dinilai strategis untuk memperkuat daya saing daerah di tingkat global.
Pemerintah Aceh menargetkan pertemuan ini menjadi pintu masuk bagi investasi asing langsung ke daerah. Selama ini, Aceh dikenal memiliki potensi besar di sektor energi hijau dan pariwisata yang belum tergarap maksimal.
Belum ada rincian teknis atau nominal investasi yang disepakati dalam pertemuan tersebut. Namun, kedua pihak sepakat untuk menindaklanjuti pembahasan ini melalui forum-forum teknis selanjutnya.