ACEH — Meski harga komoditas sedang tertekan, PKPK justru menunjukkan kinerja impresif. Dalam paparan publik tahunan, Selasa (26/5/2026), manajemen mengungkapkan bahwa hampir seluruh pendapatan—97,73 persen atau Rp732,37 miliar—disumbang oleh anak usaha di sektor pertambangan, PT Tri Oetama Persada (TRIOP).
TRIOP mengelola tambang batu bara di Kalimantan Tengah dengan kepemilikan tidak langsung PKPK sebesar 69,96 persen. Sepanjang 2025, perusahaan ini memproduksi 1,09 juta metrik ton batu bara dan menjual 1,07 juta metrik ton. Pendapatan dari penjualan mencapai USD43,64 juta atau setara Rp732,37 miliar, dengan harga jual rata-rata mengacu ICI 4 sebesar USD40,56 per metrik ton.
Efisiensi Jadi Kunci di Tengah Tekanan Harga
Manajemen PKPK menekankan bahwa realisasi produksi tahun lalu sesuai dengan target RKAB yang telah ditetapkan. Kuncinya terletak pada pengendalian biaya operasional yang ketat.
“Strategi efisiensi yang diterapkan secara disiplin sepanjang tahun, termasuk optimalisasi stripping ratio, dan pengendalian biaya operasional, menjadi faktor kunci dalam menjaga kinerja tetap optimal,” tulis perseroan dalam keterbukaan informasi publik.
Di sisi lain, lini bisnis jasa konstruksi PKPK hanya berkontribusi sekitar Rp17 miliar terhadap total pendapatan. Artinya, masa depan perusahaan kini sangat bergantung pada performa tambang TRIOP.
Saham Melesat 131 Persen, Target Pendapatan 2026 Tiga Kali Lipat
Kinerja positif ini langsung disambut pasar. Pada perdagangan Selasa siang (26/5/2026), harga saham PKPK naik 5,56 persen ke level Rp3.040 per lembar. Secara year-to-date, saham emiten batu bara ini sudah melonjak 131,18 persen, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp3,64 triliun.
Optimisme juga terlihat dari target ambisius 2026. PKPK memasang target pendapatan konsolidasian sebesar Rp3,74 triliun—tumbuh hampir 400 persen dari realisasi 2025. Target ini ditopang oleh persetujuan RKAB TRIOP sebesar 3 juta metrik ton yang diperkirakan menghasilkan Rp3,29 triliun, plus kontribusi dari anak usaha baru di sektor logistik, PT Deli Pratama Angkutan Laut, sebesar Rp450,98 miliar.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Harga batu bara global yang belum pulih bisa menguji kemampuan PKPK menjaga margin keuntungan di tengah ekspansi produksi yang agresif.