REDELONG — Empat titik longsor menimbun badan jalan lintas nasional penghubung wilayah tengah Aceh dengan pesisir utara itu. Dua titik berada dari arah Takengon dan dua titik lainnya dari arah Bireuen menuju Jembatan Enang-Enang.
Selama enam bulan terakhir, arus lalu lintas dialihkan melalui jalan alternatif Simpang Lancang–Wih Porak. Namun, jalur tersebut sangat sempit, rusak parah, dan kerap memicu antrean panjang kendaraan dari kedua arah.
Syahrial, mantan Imum Mukim Pintu Rime Gayo yang memimpin aksi pembukaan jalan, mengatakan biaya sewa alat berat berasal dari sumbangan warga. Sejumlah pihak turut membantu, mulai dari aparatur kecamatan hingga personel Koramil dan Polsek setempat.
"Sudah terlalu lama masyarakat menunggu. Jalan alternatif tidak memadai, kendaraan bisa berjam-jam antre," kata Syahrial.
Syahrial menargetkan akses itu bisa dilalui kendaraan roda dua dalam tiga hingga empat hari ke depan. Meski demikian, Jembatan Enang-Enang masih putus akibat banjir bandang pada akhir 2025 lalu.
"Nantinya kami akan coba timbun ujung jembatan supaya kendaraan roda empat juga bisa lewat," ujar dia.
Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh sebelumnya memutuskan membangun akses alternatif melalui Jembatan Wih Porak dari arah Wer Lah menuju Simpang Lancang. Jalur itu direncanakan sebagai penghubung sementara Takengon–Bireuen.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Bener Meriah, Alfahmi, mengatakan pembangunan jembatan alternatif segera dikerjakan BPJN setelah persoalan lahan selesai. "Mereka hanya memastikan lahan tidak bermasalah karena statusnya jalan kabupaten," kata Alfahmi.
Adapun pembangunan permanen Jembatan Enang-Enang baru dijadwalkan pada 2027 berdasarkan hasil rapat BPJN dengan Kementerian PUPR di Banda Aceh. Keputusan itu menuai kritik warga yang menilai pemerintah terlalu lama membiarkan akses utama lumpuh, hingga masyarakat harus bergotong royong membuka sendiri jalan nasional yang tertimbun longsor.