BENER MERIAH — Setengah tahun berlalu sejak bencana hidrometeorologi memutus akses Jalan Nasional Takengon-Bireuen, warga Kecamatan Pintu Rime Gayo akhirnya turun tangan sendiri. Mereka menyewa satu unit ekskavator dengan biaya dari sumbangan warga untuk membersihkan material longsor yang menutupi badan jalan di kawasan Jalan Enang-Enang. Alat berat itu mulai beroperasi pada Selasa (26/5/2026).
Syahrial, mantan mukim Pintu Rime Gayo, menyebutkan ada empat titik longsoran yang menimbun badan jalan. Masing-masing dua titik dari arah Takengon dan dua titik dari arah Bireuen menuju Jembatan Enang-Enang.
"Masyarakat terlalu lama menunggu. Jalan alternatif tidak memadai dengan volume kendaraan yang melintas, antre sampai berjam-jam," ungkap Syahrial dalam video yang diunggah warga di akun Facebook Qadri.
Selama akses utama putus, arus lalu lintas dialihkan melalui Jalan Simpang Lancang–Wih Porak. Namun, jalur tersebut dinilai sangat sempit, rusak, dan tidak mampu menampung volume kendaraan dari Takengon menuju Bireuen atau sebaliknya. Akibatnya, antrean panjang kendaraan menjadi pemandangan sehari-hari.
Biaya pembersihan longsor murni berasal dari sumbangan warga. Sejumlah pihak turut membantu, mulai dari aparatur kecamatan, anggota Koramil, hingga personel Polsek setempat. Sumbangan terkumpul dalam bentuk uang tunai hingga bahan bakar minyak untuk operasional alat berat.
Syahrial menargetkan akses itu bisa dilalui kendaraan roda dua dalam tiga hingga empat hari ke depan. Namun, Jembatan Enang-Enang masih putus akibat banjir bandang pada akhir 2025 lalu.
"Nantinya, kami akan coba timbun ujung jembatan supaya kendaraan roda empat juga bisa lewat," tutur Syahrial.
Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh sebelumnya memutuskan membangun akses alternatif melalui Jembatan Wih Porak dari arah Wer Lah menuju Simpang Lancang. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Bener Meriah, Alfahmi, mengatakan pembangunan jembatan alternatif itu segera dikerjakan setelah persoalan lahan selesai.
"Mereka hanya memastikan lahan tidak bermasalah karena statusnya jalan kabupaten," kata Alfahmi, Rabu (8/4/2026).
Sementara itu, pembangunan Jembatan Enang-Enang secara permanen dijadwalkan baru dimulai tahun 2027. Keputusan itu diketahui setelah rapat BPJN dengan Kementerian PUPR di Banda Aceh. Warga menilai kerusakan akses di Enang-Enang sebenarnya tidak membutuhkan biaya besar apabila pemerintah serius menangani, kecuali jika membangun jembatan permanen yang memang membutuhkan anggaran besar.