ACEH TENGAH — Belasan sekolah di tiga kecamatan, yakni Ketol, Bintang, dan Linge, masih beroperasi di bawah tenda. Kondisi ini dipicu oleh perubahan geografis pascabencana yang membuat sungai melebar dan membahayakan akses anak-anak ke sekolah asal.
“Rata-rata sekolah di Aceh Tengah terdapat pembatas sungai yang melebar pascabencana, sehingga ada kekhawatiran dari anak-anak jika melintasi sungai. Keselamatan mereka tidak terjamin, sehingga terpaksa dibuat sekolah darurat sementara,” kata Salimsyah di Aceh Tengah, Sabtu (30/5/2026), dikutip dari Antara.
Pemerintah daerah mengambil langkah darurat dengan menyediakan tenda sebagai ruang belajar. Namun, Salimsyah menekankan bahwa tenda bukanlah solusi jangka panjang. Pihaknya mendorong pemanfaatan bangunan lain, seperti rumah warga atau gedung di sekitar sekolah yang masih layak.
“Kita harapkan dalam waktu dekat bisa dihadirkan ruang belajar darurat, apakah di rumah atau sekolah berdekatan. Yang jelas ini terus kita usahakan secepat mungkin demi menghadirkan pendidikan yang nyaman untuk anak-anak kita,” ujarnya.
Upaya relokasi dan pembangunan sekolah permanen menemui hambatan administratif. Salimsyah mengungkapkan bahwa kelengkapan dokumen tanah menjadi syarat mutlak dalam pengajuan pembangunan baru.
“Karena salah satu syaratnya itu surat tanah. Saat kita ke lapangan menyerap informasi dari kepala desa dan kepala sekolah, memang terkendalanya di situ,” jelasnya.
Ketua Tim Satgas Pemulihan dan Rekonstruksi Aceh dari Kementerian Dalam Negeri, Imran, mendesak pemerintah daerah mencari solusi cepat. Ia menyarankan penggunaan sekolah lain yang masih aman sebagai alternatif sementara.
“Dalam waktu singkat pemerintah daerah bisa sementara menggunakan sekolah yang masih bisa digunakan daripada belajar di tenda. Sambil menunggu dibangunnya sekolah permanen. Kita harap pemkab cepat bangun sekolah sementara,” kata Imran.
Ia menegaskan, percepatan penyediaan fasilitas pendidikan yang aman dan layak menjadi prioritas, terutama bagi anak-anak yang masih terdampak bencana hingga kini.