Silver Pines, Game Horor 2D yang Padukan Resident Evil dan Twin Peaks, Tawarkan Pertarungan yang Frustrasi dan Strategi Shin-Stabbing

Penulis: Teuku Fahreza  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 18:28:45 WIB
Red Walker menyusuri kota Silver Pines yang basah dan mencekam dalam game horor 2D terbaru.

Silver Pines mengikuti petualangan Red Walker, seorang detektif swasta yang mencari musisi hilang di kota kecil bernama Silver Pines. Suasana kota yang basah, aneh, dan mencekam jelas meminjam estetika Twin Peaks dan Alan Wake. Namun, ketika badai datang dan monster mulai bermunculan, game ini berubah menjadi panggung survival horror yang sangat kental dengan elemen Resident Evil.

Pengembang Wych Elm menyebut game ini sebagai "surat cinta untuk survival horror klasik". Sayangnya, bagi pengulas PC Gamer yang sudah memainkan game-game tersebut puluhan kali, ungkapan itu justru menjadi bumerang. "Saya merasa agak bosan—bahkan setelah satu jam," tulisnya, menekankan bahwa sifat derivatif dari "surat cinta" justru menjadi kelemahan utama.

Pertarungan Lamban yang Memaksa Pemain Jadi Kreatif (atau Frustrasi)

Masalah utama Silver Pines ada pada sistem pertarungannya. Senjata pertama yang ditemukan hanyalah pemotong kotak (boxcutter) yang lemah, namun karakter Walker mengayunkannya dengan sangat lambat, membuatnya rentan diserang balik. Bahkan melawan satu monster saja, pemain bisa terluka parah, dan cedera membuat Walker—yang sudah lambat—semakin lamban.

Dengan persediaan herbal penyembuh yang menipis, pengulas menemukan taktik alternatif: membungkuk dan menusuk tulang kering monster. "Strategi ini mungkin tidak bisa dipakai sepanjang game, tapi jelas membantu di jam pertama. Kamu bisa mendekati monster yang tidak sadar dan terus menebas tulang kering mereka. Dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa," tulisnya. Ia mengakui metode ini tidak menyenangkan, memakan waktu, dan terlihat bodoh, namun efektif menghemat sumber daya.

Meski akan ada senjata api di kemudian hari, sebagian besar pertarungan diprediksi tetap terjadi dalam jarak dekat. Hal ini membuat pengalaman bermain terasa membosankan dan membatasi, alih-alih memberikan sensasi horor yang menegangkan.

Visual Memukau, Tapi Inovasi Terbatas di Dimensi 2D

Satu-satunya aspek yang mendapat pujian adalah presentasi visual. Karakter dan musuh digambarkan dengan gaya hampir rotoscope yang mengesankan, terutama saat pertarungan—kecuali jika pemain hanya sibuk menusuk tulang kering. Namun, pengulas meragukan apakah keputusan untuk membuat game 2D adalah langkah yang tepat. "Capcom mampu merevitalisasi Resident Evil dengan peralihan berani ke first-person, tapi saya tidak yakin Wych Elm akan bernasib sama dengan membuatnya 2D, yang terasa membatasi daripada menambah nilai," tulisnya.

Dengan jadwal rilis yang masih jauh di tahun 2026, Silver Pines masih punya waktu untuk memperbaiki kelemahannya. Namun, dari pandangan awal, game ini tampak lebih seperti penghormatan yang kurang matang daripada sebuah inovasi yang layak ditunggu. Para penggemar survival horror mungkin perlu menahan ekspektasi mereka.

Reporter: Teuku Fahreza
Sumber: pcgamer.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top