ACEH — Pelemahan tajam IHSG terjadi di tengah volume transaksi yang tinggi. Total nilai saham yang diperdagangkan mencapai Rp25,21 triliun dengan 40,06 miliar saham berpindah tangan. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 69 saham berhasil menguat, sementara 692 saham terkoreksi dan 54 saham stagnan.
Purbaya secara tegas membantah pelemahan pasar saham disebabkan memburuknya fundamental ekonomi. Menurutnya, indikator makroekonomi masih solid, terutama dari sisi penerimaan pajak yang tetap tumbuh pada Mei. "Fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, enggak ada masalah. Pendapatan pajak di Mei aja masih kencang," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Ia juga menolak anggapan inflasi di kisaran 3% menjadi penyebab utama. Purbaya menilai angka tersebut masih dalam target Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%. "Karena banyak isu-isu negatif," tambahnya, merujuk pada rumor yang beredar di dalam negeri.
Untuk memperkuat argumennya, Purbaya menyebut aktivitas ekonomi di berbagai daerah masih ramai. Mulai dari tempat hiburan hingga hotel, ia menilai ini bukti bahwa domestic demand atau daya beli masyarakat masih cukup kuat. "Domestic demand masih kuat, daya beli masyarakat masih cukup kuat," kata Purbaya.
Meski demikian, ia enggan memprediksi level IHSG ke depan. Purbaya hanya memastikan pemerintah akan fokus menjaga sentimen pasar di samping terus mempertahankan fundamental ekonomi. "Kalau nanya level enggak tahu. Saya bilang enggak usah takut. Jadi kita akan pastikan lagi semuanya lebih baik, termasuk menjaga sentimen pasar," ujarnya.
Pernyataan Menkeu ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tengah meredam kepanikan di pasar modal. Investor disarankan mencermati perkembangan aktual dari lembaga pemeringkat S&P. Sebab, Purbaya mengaku baru akan bertemu dengan pihak S&P pada malam harinya. Pernyataan resmi dari lembaga pemeringkat tersebut akan menjadi kunci arah pergerakan IHSG selanjutnya.
Investasi mengandung risiko. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor berdasarkan analisis masing-masing.