ACEH — Ancaman ini kontras dengan pernyataan Trump sehari sebelumnya, Selasa (9/6/2026), yang justru optimistis negosiasi pengakhiran perang dengan Iran berada di tahap akhir dan bisa rampung dalam dua hingga tiga hari. Sikap berubah drastis setelah militer AS melancarkan serangan balasan atas jatuhnya helikopter Amerika pada Senin (8/6/2026).
Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara dan Angkatan Laut telah melakukan operasi terhadap sasaran Iran. Media Iran melaporkan ledakan terjadi di sepanjang pantai selatan negara itu pada Selasa malam, sebagai respons atas insiden helikopter yang jatuh sehari sebelumnya.
Pernyataan Trump di Truth Social berbunyi: "Si Pengganggu Timur Tengah telah MATI!!! Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayar harganya!!!" Kalimat ini dikutip dari laporan AFP.
Pemerintah Iran tidak tinggal diam. Pada hari Rabu, Teheran mengklaim telah menyerang pangkalan militer Amerika di Yordania dan Bahrain. Langkah ini menjadi eskalasi signifikan dalam konflik yang sebelumnya hanya terjadi di jalur diplomasi dan serangan terbatas.
Belum ada konfirmasi resmi dari pihak AS mengenai dampak serangan Iran tersebut. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah kini berada di titik tertinggi sejak Trump kembali menjabat.
Perubahan sikap Trump dari optimisme menjadi ancaman terbuka menunjukkan bahwa jalur diplomasi menemui jalan buntu. Sehari sebelum pernyataan keras itu, Trump masih meyakini kesepakatan damai dapat dicapai dalam hitungan hari. Kini, ia justru menuntut Iran membayar harga atas waktu yang dianggap terbuang.
Analis hubungan internasional menilai bahwa pernyataan "harga yang harus dibayar" bisa merujuk pada sanksi ekonomi baru, serangan militer lanjutan, atau tuntutan politik yang lebih berat dalam perundingan. Namun, hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum merinci bentuk hukuman yang dimaksud.
Eskalasi antara AS dan Iran berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Teluk. Negara-negara tetangga seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab diperkirakan akan meningkatkan kewaspadaan militer. Sementara itu, jalur pelayaran di Selat Hormuz—yang dilalui sepertiga minyak dunia—kini berada dalam ancaman gangguan.
Belum ada pernyataan resmi dari Dewan Keamanan PBB atau negara-negara Eropa yang menjadi mediator dalam negosiasi sebelumnya. Masyarakat internasional kini menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak, apakah akan kembali ke meja perundingan atau terus berperang terbuka.