Kekalahan hukum ini menjadi pukulan telak bagi Rockstar Games dalam upaya mereka menghindari tanggung jawab penuh atas pemecatan puluhan pekerja pada Oktober 2024 lalu. Dalam sidang pendahuluan, pengadilan menolak permohonan studio pengembang gim tersebut yang ingin agar tuduhan blacklisting—atau praktik ilegal menyusun daftar hitam pekerja yang aktif di serikat buruh—dikeluarkan dari berkas perkara. Dengan putusan ini, Independent Workers Union of Great Britain (IWGB) berhak membawa seluruh tudingan praktik anti-serikat buruh ke persidangan penuh atas nama 31 anggota yang dipecat.
Kronologi kasus ini bermula pada Oktober 2024, ketika Rockstar tiba-tiba memecat lebih dari 30 pekerja dan pengembang di Inggris dan Kanada. Seluruh korban adalah anggota serikat buruh atau pekerja yang tengah aktif mengupayakan organisasi pekerja di lingkungan studio. Dalam hitungan hari, gelombang protes yang diorganisir IWGB sudah terkumpul di depan kantor Take-Two dan Rockstar di London dan Edinburgh.
Tidak berhenti di situ, lebih dari 200 karyawan Rockstar lainnya mengirim surat kepada manajemen perusahaan yang menuntut pemulihan kembali rekan-rekan mereka yang dipecat. Kasus ini kemudian meluas hingga ke ranah politik. Anggota Parlemen untuk Edinburgh West, Christine Jardine, mendesak sesama menteri untuk "mendukung pekerja yang kehilangan pekerjaan mereka dan menghentikan hal ini terulang kembali." Pada pertengahan Desember, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sendiri menyebut kasus ini "sangat meresahkan."
Ellie Dunstan, salah satu pekerja yang dipecat, menyebut putusan pengadilan pekan ini sebagai "momen besar." "Rockstar mengira mereka bisa mengontrol narasi," kata Dunstan dalam pernyataan IWGB. "Mereka salah, dan kami tidak sabar untuk membuktikannya. Kasus kami kini akan didengar secara utuh dan diuji sebagaimana mestinya."
Spring McParlin-Jones, Ketua IWGB Game Workers Branch, menambahkan bahwa keputusan ini menjadi pukulan balik bagi upaya Rockstar untuk menghindari akuntabilitas. Upaya itu, kata McParlin-Jones, telah berlangsung "sejak saat para pekerja dikawal keluar dari gedung tanpa peringatan, dan berlanjut di setiap tahap proses hukum selanjutnya." Ia menyebut pertarungan hukum ini sebagai "pertarungan Daud melawan Goliat" yang bisa membentuk masa depan hak-hak serikat buruh di seluruh industri gim dan bahkan di luarnya.
Sidang final kasus ini dijadwalkan berlangsung selama lebih dari sebulan, mulai 10 September hingga 15 Oktober 2025. Menariknya, jadwal ini berakhir hanya beberapa pekan sebelum peluncuran Grand Theft Auto VI, salah satu gim paling dinanti sepanjang masa. Situasi ini berpotensi menjadi mimpi buruk humas bagi Rockstar dan perusahaan induknya, Take-Two Interactive, di saat mereka seharusnya fokus pada kampanye pemasaran gim andalan mereka.
Bagi para pengamat industri, kasus ini menjadi ujian penting bagi praktik ketenagakerjaan di sektor gim yang kerap dikritik karena jam kerja panjang dan tekanan tinggi. Jika IWGB memenangkan perkara ini, dampaknya bisa mengguncang tata kelola sumber daya manusia di studio-studio gim besar di seluruh dunia, termasuk kemungkinan mendorong terbentuknya lebih banyak serikat buruh di industri yang selama ini dikenal enggan berserikat.